MATERI MANAJEMEN KEARSIPAN
PROSEDUR BUKU AGENDA
1. Pengurusan
Surat Masuk Sistem Buku Agenda
Pengurusan
surat masuk sistem buku agenda yaitu :
a. Penerimaan
Tugas bagian penerimaan
surat,adalah :
1. Menggumpulkan
dan menghitung surat yang diterima.
2. Meneliti
kebenaran bukti pengiriman surat dari kurir atau pos sebagai tanda bahwa surat
telah diterima.
b. Penyortiran
Tugas bagian
penyortiran surat, adalah :
1. Memisahkan
surat – surat untuk pimpinan , sekretaris , untuk karyawan lainnya, dan surat –
surat dinas lainnya.
2. Menggolong
– golongkan surat dinas ke dalam , surat dinas rutin , surat dinas penting ,
dan surat dinas rahasia.
3. Memisahkan
surat – surat yang memerlukan penanganan khusus , seperti surat tercatat /
terdaftar , kilat , rahasia pribadi , wesel pos dan sebagiannya.
Mencatat dalam buku
penerimaan tersendiri , agar dapat diterima oleh orang yang memang berhak.
c. Pencatatan
Tugas bagian pencatatan
surat adalah :
1. Membuka
amplop , membaca , dan meneliti isi surat agar pimpinan cepat menangkap inti
maksud dari isi surat dengan cara menggaris bawahi kata – kata / kalimat yng
dianggap penting.
2. Memeriksa
lampiran - lampiran surat.
3. Memberikan
cap yang merupakan stempel agenda pada ruang yang kosong dibagian atas / bawah
halaman pertama surat.
4. Menggandakan
surat masuk yaitu mencatat surat dalam agenda surat masuk.
a. Buku
agenda tunggal
Adalah buku agenda yang
dipergunakan untuk mencatat surat masuk dan surat keluar sekaligus dengan nomor
berurutan pada tiap – tiap halaman untuk halaman.
b. Buku agenda kembar
Adalah satu buku agenda
untuk mencatat surat masuk dan satu buku agenda untuk mencatat surat keluar.
Dengan demikian buku
agenda kembar dapat dibedakan atas :
Buku
masuk
Adalah buku yang khusus
untuk mencatat suart masuk yang diterima dalam suatu kantor.
Agenda
keluar
Adalah buku yang khusus
untuk mencatat surat keluar atau disebut denganbuku verbal.
c. Buku
agenda berpasangan
Adalah buku agenda yang
diperguankan untuk mencatat surat masuk dan surat keluar dalam satu
buku.Halaman sebelah kiri untuk mencatat surat masuk dan sebelah kanan untuk
mencatat surat keluar.
d. Pengarahan
Surat yang telah
diagendakan perlu diproses lebih lanjut , diarahkan dan diteruskan kepada
pejabat yang mengolahnya.
Tugas bagian pengarahan
adalah :
1. Menyerahkan
surat masuk yang telah dilampiri lembar disposisi kepada pimpinan / tata usaha
pengelola.
2. Mengambil
/ menerima surat dari pimpinan dan menyerahkan surat tersebut ke unit pengolah
sesuai instruksi dalam lembar diposisi untuk memproses surat tersebut.
3. Bila
surat memerlukan penanganan lebih dari satu pejabat / unit pengolah surat harus
dibuatkan foto copian.
4. Dalam
penyerahan surat ke unit pengolah , bagian pengarah harus memintakan paraf dibuku
espedisi intern sebagai bukti surat telah diterima.
e. Penyimpanan
Surat yang berada di
unit pengolah akan diproses sesuai atasan . Dalam jangka waktu tertentu surat
yang telah diproses diambil untuk disimpan unit penyimpanan dengan mengguanakan
sistem penyimpanan tertentu.
2. Pengurusan
Surat Keluar Sistem Buku Agenda
Pengurusan
surat keluar , baik surat sebagai tindak lanjut maupun surat keluar yang
bersifat intern , menempuh prosedur yang sama yaitu :
a. Pengonsepan
Pengonsepan dapat
dilakukan oleh pimpinan , sekretaris maupun unit pengolah.
Yang terpenting
pengonsepan harus bersifat :
·
Formal / diluas
·
Obyektif dan sopan
·
Ringkas / jelas maksudnya
·
Rapi dan seragam dalam bentuknya
b. Persetujuan
Konsep yang telah
dibuat dimintakan persetujuan pimpinan atau pihak yang bersangkutan.Sebagai
tanda persetujuan atas konsep tersebut , pimpinan memberikan tanda tangannya
pada lembar konsep surat.
Selanjutnya konsep
surat diregistrasikan / dicatat ke petugas verbalis ( agenda keluar ) untuk
memberi kode / nomor surat.
c. Pengetikan
Konsep surat yang telah
bernomor siap diserahkan petugas pengetikan. Dalam pengetikan harus tekun dan
teliti dengan memperhatikan tanda – tanda koreksi.
d. Penandatanganan
Surat yang sudah
disusun dimintakan tanda tangan kepemimpinan atau pejabat yang berwenang.
e. Pencatatan
Surat yang telah
ditanda tangani, stempel dan dicatat dalam buku verbal oleh petugas verbalis.
Buku verbal adalah buku yang dipergunakan untuk mencatat surat di kas resmi
keluar.
Dengan demikian surat
telah siap dikirim dengan mempergunakan buku ekspedisi , buku ekspedisi intern
untuk surat keluar dalam instansi yang bersangkutan , sedangkan buku ekspedisi
ekstern untuk surat keluar orang / instansi lain.
f. Penyimpanan
Surat yang telah selesai diproses
harus disimpan di unit penyimpanan / sekretaris.
PROSEDUR KARTU KENDALI
Kartu
kendali adalah kertas tipis yang berukuran 10 x 15 cm berisi kolom – kolom untk
mencatat syarat masuk dan keluar serta untuk mengendalikan surat. Penggunaannya
bisa rangkap 2 atau lebih sesuai dengan kebutuhan kantor.
Siatem
kartu kendali merupakan pengolahan surat pola baru. Saat ini sistem kartu
kendali sering ditetapkan diinstansi pemerintah , karena sistem ini kehilangan
arsip dapat dicegah dan pemrosesan surat dapat dipercepat.
1. Pengurusan
Surat Masuk Sistem Kartu Kendali
Prosedur
pengurusan surat masuk sistem kartu kendali ,didasarkan atas jenis pekerjaan
dalam pemrosesan surat.
Langkah
– langkahnya yaitu :
a. Penerimaan
Tugas bagian penerimaan
adalah :
1. Menerima
surat dan menandatangani buku ekspedisi ekstern dari pengirim surat.
2. Memeriksa
kebenaran alamat surat dan jumlah lampiran bila ada.
3. Menggolongkan
surat menjadi surat pribadi , surat dinas rahasia dan surat dinas penting ,
untuk surat pribadi dan rahasia langsung diserahkan kepada yang bersangkutan.
4. Membaca
amplop surat dinas penting , menuliskan tanggal penerimaan dan nomor urut
penerimaan surat masuk dipojok kanan atas.
b. Pencatatan
1. Menerima
surat dari bagian penerimaan surat.
2. Menuliskan
kartu kendali rangkap 3 ( putih , hijau , merah ) dan dilampirkan pada surat.
3. Menyimpan
kartu kendali I putih sebagai pengganti buku agenda.
4. Menyerahkan
surat beserta kartu kendali II,III kepada pengarah.
c. Pengarah
Tugas bagian pengarahan
adalah :
1. Menentukan
nomor kode klasifikasi surat dan mengisikan dilembar kartu kendali.
2. Menentukan
sifat surat , surat penting atau biasa.
3. Menentukan
arah surat kepada siapa akan disampaikan.
4. Menyerahkan
surat kepada TU pengolah.
5. Menyerahkan
kartu kendali hijau ke penyimpan setelah di tanda tangani TU pengolah.
d. TU
/ Tata Usaha Pengolah
Tugas bagian Tu
pengolah adalah :
1. Menerima
surat beserta kartu kendali dari unit pengarah surat dan memberi tanda tangan
pada kartu kendali I,II.
2. Membuat
dan mengganti lembar kendali dengan 1 lembar disposisi.
3. Menyimpan
kartu kendali IIImerah berdasarkan kode.
4. Kartu
kendali merah berfungsi sebagai pengganti arsip sementara.
5. Menyerahkan
kartu kendali II / hijau ke pengarah untuk diserahkan ke penyimpanan.
6. Menyerahkan
surat beserta lembar disposisi yang telah diisi ke pimpinan pengolah.
e. Pimpinan
unit pengolah ( kepala bagian / sub )
Tugas dari pimpinan
unit pengolah adalah :
1. Menerima
surat dan lembar disposisi.
2. Memeriksa
, meneliti isi surat.
3. Menentukan
dan memberikan instruksi tentang tindak lanjut surat tersebut , apakah surat tersebut harus
dibalas atau tidak lanjut lagi.
4. Menyerahkan
surat dan lembar disposisinya ke TU pengolah yang selanjutnya akan diserahkan
ke unit / sub bagian yang telah ditunjuk pimpinan pengolah.
f. Pengolah
Tugas unut pengolah
adalah :
1. Menerima
surat dan lembar disposisi dan memberi tanda tangan lembar disposisi di kanan
bawah.
2. Mengolah
surat berdasarkan instruksi pimpinan pengolah.
3. Menyerahkan
tindasan lembar disposisi ke TU pengolah untuk disimpan sebagai alat tagih /
pengingat surat sudah diproses apa belum.
g. Penyimpanan
Tugas bagian
penyimpanan adalah :
1. Menerima
kartu kendali II ( hijau ) dari pengarah.
2. Kartu
kendali II disimpan ,berfungsi sebagai pengganti buku ekspedisi intern.
3. Disimpan
berdasarkan kode.
Tugas penyimpanan
adalah menyimpan kartu kendali II / hijau , setelah di tanda tangani KK II oleh
TU pengolah. Ini berarti bagian bagian penyimpanan tetap bisa memonitor surat
berada di unit mana.
2. Pengurusan
Surat Keluar Sistem Kartu Kendali
Prosedur
pengurusan surat keluar sistem kartu kendali adalah :
a. Tata
Usaha Pengolah
Ada
beberapa surat yang harus dibalas. Untuk pengonsepan surat tersebut bisa
dilaksanakan tata usaha pengolah atau pemimpin dari unit pengolah.
Konsep
harus memenuhi persyaratan yang berlaku dan yang tepenting bahwa itu merupakan
surat balasan atau bukan. Bila surat tersebut merupakan surat balasan , surat
masuk terdahulu tidak boleh dikesampingkan karena masih berkaitan.
Pada
perkembangan tehnologi saat ini , ada kalanya surat keluar disusun oleh
pimpinan sendiri. Hal itu mengingat waktu dan sifat isi surat ( rahasia ).
Surat yang telah diketik dan disetujui pimpinandiserahkan ke pencatat surat.
a. Tugas
pencatat surat adalah :
1. Menerima
dan melampiri surat tersebut dengan kartu kendali.
2. Mengisi
identitas yang ada di lembar kartu kendali dengan disesuaikan identitas surat.
3. Menyerahkan
kartu kendali II dan III kepada pengarah untuk meminta kode klasifikasi.
4. Menyimpan
kartu kendali / putih berdasarkan indeks.
b. Tugas
pengarah adalah :
1. Mengisi
kolom kode di kartu kendali dengan melihat daftar klasifikasi.
2. Menyerahkan
surat asli ke bagian pengirimansetelah surat diperiksa kelengkapannya.
3. Menyerahkan
tindasan dan kartu kendali II / hijau diserahkan ke penyimpanan.
c. Tugas
penyimpan adalah :
1. Menerima
dan menyimpan kartu kendali II / hijau dari pengarah setelah di tanda tangani
unit pengolah.
2. Jika
tindakan surat telah in aktif dari unit pengolah , harus diserahkan ke unit
penyimpanan ,sedangkan kartu kendali III / merah tetap disimpan unit pengolah.
PROSEDUR TATA NASKAH
Tata
Naskah adalah kegiatan administrasi dalam memelihara dan menyusun data – data
dari semua tulisan mengenai segi –segi tertentu dari suatu persoalan pokok
secara kronologis dalam sebuah berkas.
Ø Tujuan
tata naskah untuk memudahkan penyajian , pengolahan , pengawasan , pencarian
kembali segi – segi tertentu dari suatu persoalan yang dihimpun dalam tata
naskah .
Ø Tata
Naskah suatu map jepit yang berisi surat untuk diedarkan kepada pengolah – pengolah
yang berwenang terhadap pengolahan surat, map ini akan bertambah dengan
instruksi – instruksi , disposisi – disposisi , catatan – catatan, konsep –
konsep surat balasan , yang dimasukkan kedalam map tata naskah berurutan secara
kronologis.
Ø Umumnya
sistem penyimpanan dipilih sistem subjek ( sistem pokok soal )
Ø Pencacatan
surat masuk dam surat keluar sendiri tetap mempergunakan buku agenda yang
didalam prosedur tata naskah disebut buku pencatatan keluar dan buku pencatatan
masuk.
Ø Bila
sistem penyimpanan yang dipilih untuk tata naskah adalah sistem subjek ,
seharusnya sistem subjek diperlikan buku dadiperlikan buku daftar istilah –
istilah subjek yang umum disebut buku klasifikasisubjek. Buku klasifikasi
subjek dapat dibuat sendiri atau memilih satu dari pola klasifikasi subjek yang
standar.
MATERI MANAJEMEN KEARSIPAN
PENGGOLONGAN ARSIP
Arsip
merupakan wujud tulisan atau kumpulan surat dalam bentuk corak teknis dalam
keadaan tunggal, berkelompok atau dalam satu kesatuan bentuk fungsi dari usaha
perencanaan, pelaksanaan, dan penyelenggaraan. Sedangkan kearsipan merupakan
salah satu pekerjaan kantor atau pekerjaan tatausaha yang dilakukan oleh setiap
badan usaha atau instansi Pemerintah. Dilihat dari
penggolongannya, arsip digolongkan menjadi beberapa macam penggolongan arsip,
yaitu :
1.
Penggolongan arsip menurut subjek atau
isinya,
- Penggolongan arsip menurut bentuk atau wujudnya,
- Penggolongan arsip menurut nilai atau kegunaannya,
- Penggolongan arsip menurut sifat kepentingannya,
- Penggolongan arsip menurut frekuensi penggunaannya,
- Penggolongan arsip menurut fungsinya,
- Penggolongan arsip menurut tingkat penyimpanan dan pemeliharaannya,
- Penggolongan arsip menurut keasliannya.
1.
Penggolongan arsip menurut subjek ( isi
arsip )
Berdasarkan subjek atau isinya, arsip dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu :
Berdasarkan subjek atau isinya, arsip dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu :
a. Arsip Keuangan, yaitu arsip yang
berhubungan dengan masalah-masalah keuangan. Misalnya:
v Laporan keuangan,
v Surat Perintah Membayar ( SPM ) Tunai,
v Surat Perintah Membayar ( SPM ) Giral,
v Surat Permintaan Pembayaran ( SPP ),
v Surat Penagihan ( SPn ),
v Daftar Gaji,
v Surat Pertanggungjawaban ( SPj ).
b. Arsip Kepegawaian, adalah arsip yang
berhubungan dengan masalah-masalah yang menyangkut kepegawaian. Misalnya:
v Daftar riwayat hidup pegawai,
v Surat lamaran,
v Surat-surat pengangkatan pegawai,
v Absensi pegawai,
v Kartu tik pegawai,
v Kartu Pegawai (Karpeg).
c.
Arsip Pemasaran, adalah arsip yang berkaitan dengan masalah-masalah pada pemasaran, Misalnya
:
v Surat penawaran,
v Surat pesanan,
v Surat permintaan kebutuhan barang,
v Surat perjanjian / kontrak penjualan / pembelian,
v Daftar nama-nama nasabah, relasi, agen, distributor,
v Daftar harga barang,
v Daftar daerah pemasaran.
d. Arsip Pendidikan, segala arsip yang
berhubungan dengan masalah-masalah pada
suatu pendidikan, Misalnya :
v Garis-garis Besar Program Pengajaran ( GBPP ),
v Satuan Pelajaran ( SP ),
v Program Pengajaran,
v Rekapitulasi Pelaksanaan Proses Belajar Mengajar,
v Daftar absensi siswa dan guru.
2.
Penggolongan arsip menurut bentuk atau wujudnya
Dalam penggolongan arsip menurut bentuk atau wujudnya
sangat banyak sekali macamnya. Sebagai contoh adalah naskah perjanjian, akte
dari pendirian suatu perusahaan, bukti pembelian suatu barang, notulen rapat,
semua jenis laporan-laporan, berita acara, dan surat untuk pengangkatan
pegawai.
3. Penggolongan arsip menurut nilai atau
kegunaannya
Arsip adalah segala bentuk gambaran atau bukti informasi
yang disimpan secara sistematis dan mempunyai tujuan, sehingga bila suatu saat arsip
diperlukan kembali maka arsip dapat dicari
atau ditemukan dengan tepat, mudah dan cepat.
Berkaitan dengan nilai guna, maka dimungkinkan suatu arsip memiliki
beberapa nilai atau kegunaan.
Milton Reitzfeld berpendapat bahwa arsip mempunyai & nilai sebagai
berikut :
1.
Nilai guna administrasi
2.
Nilai guna hukum
3.
Nilai guna keuangan
4.
Nilai guna untuk dasar kebijakan
5.
Nilai guna untuk pelaksanaan kegiatan
6.
Nilai guna sejarah
7.
Nilai guna penelitian
Sementara The Liang Gie ( 1979: 215 ) mengemukakan 6 nilai dari arsip :
1.
Nilai administrasi (administrative
value)
2.
Nilai hukum ( legal value )
3.
Nilai keuangan ( fiscal value )
4.
Nilai penelitian ( research value )
5.
Nilai pendidikan ( educational value )
6.
Nilai dokumentasi ( documentary value ).
Untuk memudahkan ingatan, keenam nilai
arsip di atas disingkat dengan singkatan ALFRED.
4. Penggolongan arsip menurut sifat kepentingannya
Berdasarkan sifat kepentingan arsip, arsip dibedakan
menjadi 4 macam yaitu arsip nonesensial, arsip yang diperlukan, arsip penting
dan arsip vital.
1.
Arsip nonesensial.
Arsip yang tidak memerlukan pengolahan dan tidak mempunyai manfaat penting tidak
perlu disimpan dalam waktu yang terlalu lama, karena malah akan menyebabkan
penumpukan arsip-arsip yang tidak penting. Arsip yang tidak penting jika
disimpan juga akan menyebabkan susahnya pencarian arsip-arsip yang lebih
penting karena terlalu banyaknya jumlah arsip yang ada. Jadi arsip yang sudah
tidak penting sebaiknya segera dimusnahkan, kalaupun perlu disimpan waktu
penyimpanan maxsimal 1 tahun saja. Termasuk jenis arsip nonesensial adalah
pengumuman hari libur, pengumuman apel bendera, surat atau kartu undangan, memo
atau nota terkait hal-hal yang tidak penting.
2.
Arsip yang diperlukan.
Adalah arsip yang masih mempunyai nilai kegunaan tetapi hanya mempunyai sifat
sementara dan terkadang arsip tersebut masih dibutuhkan atau digunakan karena
itu arsip yang diperlukan, perlu disimpan antara 2 – 3 tahun. Contoh arsip yang
diperlukan: presensi pegawai, daftar isian pegawai (surat lamaran), surat
permohonan cuti, surat perintah jalan, surat keterangan pegawai, surat
pengantar pengiriman, surat telegram, surat pesanan barang, surat pemeliharaan
gedung, surat permintaan kebutuhan barang, surat pemeliharaan alat-alat
inventaris.
3.
Arsip penting.
Adalah arsip yang mempunyai nilai hukum, pendidikan, keuangan, dokumentasi,
sejarah dan mempunyai kegunaan yang sangat besar karena arsip penting dapat
membantu kelancaran kegiatan suatu organisasi. Jika arsip ini hilang maka akan
sulit untuk mendapatkan atau mencari penggantinya. Arsip penting disimpan dalam
waktu yang cukup lama atau disimpan minimal 10 tahun – 30 tahun sesuai dengan nilai
yang terkandung di dalam arsip tersebut. Yang termasuk arsip penting misalnya
Surat Keputusan terkait pegawai ( pengangkatan, pemindahan, pemberhentian suatu
pegawai ), daftar mutasi keluarga, daftar riwayat hidup/pekerjaan pegawai,
daftar sensus pegawai, laporan keuangan, neraca percobaan, buku kas tabelaris,
berita acara pemeriksaan keuangan, buku kas harian, buku kas umum, buku kas
penolong, daftar isian kegiatan, daftar perincian gaji, surat perintah membayar
uang, dan sebagainya.
4.
Arsip vital.
Arsip ini bersifat permanen, langgeng, serta arsip ini harus disimpan untuk
selama-lamanya karena arsip ini bersifat permanen. Termasuk arsip vital antara
lain akte pendirian perusahaan, buku induk siswa/mahasiswa, daftar hasil ujian
dinas pegawai, daftar hasil ujian jabatan pegawai, buku induk pegawai, dokumen
pemilikan tanah gedung, dan lain-lain.
5.
Penggolongan arsip menurut frekuensi penggunaannya
Sedangkan menurut tingkat penggunaan / frekuensi penggunaan
arsip, arsip dibedakan menjadi 3 macam yaitu:
1.
Arsip aktif, adalah arsip yang masih
diperlukan dalam proses penyelenggaraan suatu kerja.
2.
Arsip pasif, yaitu arsip yang jarang
digunakan dalam proses penyelenggaraan suatu kerja namun terkadang-kadang juga
masih diperlukan dalam pelaksanaan kerja.
3.
Arsip abadi, merupakan arsip yang harus
disimpan untuk selama-lamanya karena nilai informasi yang terkandung di
dalamnya sangat abadi. (Wursanto, 27-28)
6. Penggolongan arsip
menurut fungsinya
Menurut fungsi dan kegunaannya, arsip dibedakan
menjadi 2 macam, yaitu arsip dinamis dan arsip statis.
1.
Arsip dinamis. Adalah arsip yang
digunakan dengan cara langsung dalam kegiatan organisasi / dalam kegiatan perkantoran
sehari-hari. Arsip dinamis di bagi lagi menjadi 3, yaitu :
v
Arsip aktif, adalah arsip yang masih
sering atau pasti digunakan lagi bagi kelangsungan kerja,
v
Arsip semi aktif, adalah arsip yang
frekuensi penggunaannya sudah mulai menurun atau penggunaanya sudah berkurang,
v
Arsip inaktif, adalah arsip yang jarang
sekali dipergunakan dalam proses pekerjaan sehari-hari bahkan bisa saja tidak
digunakan lagi.
2.
Arsip statis. Adalah arsip yang sudah
tidak dipergunakan secara langsung dalam kegiatan perkantoran sehari-hari namun
tetap dikelola / disimpan berdasarkan pertimbangan nilai guna yang terkandung
di dalam arsip statis tersebut.
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43
Tahun 2009 Tentang Kearsipan Bab I Ketentuan Umum Pasal I poin 3 sampai dengan
7 dijelaskan mengenai beberapa pengertian arsip sebagaimana disebutkan di atas,
yaitu :
1.
Arsip dinamis adalah arsip yang
digunakan secara langsung dalam kegiatan penciptaan arsip dan disimpan selama
jangka waktu yang telah ditetapkan atau dalam waktu tertentu.
2.
Arsip vital adalah arsip yang keberadaannya
masih merupakan persyaratan dasar bagi kelangsungan operasional pencipta arsip,
tidak dapat diperbarui, dan tidak tergantikan atau diperbarui apabila rusak.
3.
Arsip aktif adalah arsip yang frekuensi
penggunaannya tinggi atau sering sekali digunakan atau terus menerus dipergunakan.
4.
Arsip inaktif adalah arsip yang
frekuinsi penggunaannya telah menurun atau jarang lagi digunakan.
5.
Arsip statis adalah arsip yang
dihasilkan oleh pencipta arsip karena memiliki nilai guna yang cukup tinggi
atau nilai kesejahteraan, telah habis retensinya, dan berketerangan
dipermanenkan yang telah diverifikasi baik secara langsung maupun tidak
langsung oleh Arsip Nasional Republik Indonesia dan atau lembaga kearsipan.
6.
Arsip terjaga adalah arsip negara yang
berkaitan dengan keberadan dan kelangsungan hidup bangsa dan negara yang harus
dijaga keutuhan, keamanan, dan kesejahteraannya dan ini merupakan arsip yang
penting karena menyangkut atau berkaitan dengan hubungan negara dan
kelangsungan hidup bangsa dan negara.
7.
Arsip umum adalah arsip yang tidak
termasuk dalam kategori arsip terjaga atau tidak menyangkut urusan negara.
7.
Penggolongan arsip menurut tingkat penyimpanan dan
pemeliharaannya.
Ditinjau dari
penyimpanannya, arsip dibedakan menjadi 4 yaitu :
1. Arsip
dinamis
Arsip ini disimpan di
lembaga atau instansi pemiliknya.
2. Arsip
dinamis aktif
Arsip ini disimpan di
masing-masing unit kerja yang ada di suatu lembaga tersebut.
3. Arsip
dinamis pasif atau in-aktif
Arsip ini disimpan di
unit kearsipan Pusat
4. Arsip
statis
Arsip ini disimpan di
ANRI ( Arsip Nasional Republik Indonesia ).
8.
Penggolongan arsip menurut keasliannya
Dalam penggolongan arsip menurut
keasliannya, arsip ini dapat dibedakan dalam arsip asli, arsip tembusan,arsip
salinan,dan arsip petikan.
MATERI MSDM
Pengertian
Motivasi
Kata
motivasi berasal dari bahasa Latin yaitu “movere” yang berarti mendorong
atau menggerakkan. Menurut arti katanya motivasi atau motivation berarti
pemberian motif, penimbulan motif atau hal yang menimbulkan dorongan atau suatu
keadaan yang menimbulkan dorongan. Dapat pula diartikan sebagai faktor yang
mendorong orang untuk bertindak dengan cara tertentu (Manullang 1985:146).
Menurut Gibson, Ivencevich dan Donnelly (1996:150) dikatakan bahwa motivasi
adalah kekuatan yang mendorong seseorang karyawan yang menimbulkan dan
mengarahkan perilaku. Sedangkan menurut Scott (1962:83) dijelaskan bahwa
motivasi adalah sebagai serangkaian pemberian dorongan kepada seseorang untuk
melakukan tindakan guna pencapaian tujuan yang diinginkan.
Dari
beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa motivasi adalah sesuatu
hal ataupun kondisi yang dapat merangsang, memberi dorongan ataupun
menggerakkan seseorang individu melakukan suatu kegiatan yang di dalamnya
mencakup berbagai aspek tingkah laku menusia yang mendorongnya untuk berbuat
atau tidak berbuat sesuatu.
2.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi
Menurut
Lyman Porter dan Raymond Miles (1974:546-550) terdapat tiga kelompok variabel
yang mempengaruhi motivasi dalam organisasi yaitu:
o Ciri-ciri/karakteristik
pribadi yaitu: minat, sikap, pendidikan, kemampuan, pengalaman, kebutuhan yang
dibawa individu dalam situasi pekerjaannya.
o Ciri
pekerjaan: atribut pekerjaan, tanggung jawab, wewenang, variasi dalam
pekerjaan.
o Lingkungan
pekerjaan: rekan sekerja, supervisor, praktek-praktek imbalan yang diterapkan,
kultur organisasi.
Sedangkan
menurut Siagian (1994:294), motivasi karyawan dipengaruhi oleh dua faktor
yaitu:
o Faktor
internal meliputi: persepsi mengenai diri sendiri, harga diri, harapan pribadi,
kebutuhan, keinginan, kepuasan kerja dan prestasi yang dihasilkan.
o Faktor
eksternal yaitu: jenis dan sifat pekerjaan, kelompok kerja, organisasi tempat
bekerja, situasi lingkungan pada umumnya, dan sistem imbalan.
2.3 5 PENDEKATAN UNTUK MEMOTIVASI KARYAWAN
Dari
apa yang diuraikan di atas terlihat bahwa motivasi seseorang berkaitan dengan
prestasi kerja seseorang, atau dengan kata lain bahwa tinggi rendahnya prestasi
atau kinerja seorang karyawan dipengaruhi oleh motivasinya. Dalam hal
memotivasi karyawan menurut Strauss dan Sayless (1990:39-59) ada 5 pendekatan
yang dapat digunakan yaitu:
1)
Pendekatan Tradisional
Sesuai
dengan pendekatan ini, aspek yang sangat penting dari pekerjaan para manajer
adalah bagaimana membuat para karyawan bisa menjalankan pekerjaan mereka yang
membosankan dan berulang-ulang dengan cara yang paling efisien. Untuk
memberikan dorongan kepada karyawan, para manajer menggunakan sistem upah
insentif, dimana semakin banyak karyawan menghasilkan maka semakin besar
penghasilan mereka.
Motivasi
ini didasarkan pada anggapan bahwa para pekerja sebenarnya adalah pemalas dan
bisa didorong hanya dengan imbalan (uang). Dalam berbagai kondisi, insentif tesebut
cukup efektif, namun demikian, lama kelamaan manajer akan mengurangi tingkat
insentif upah yang diberikan. Dengan semakin meningkatnya prestasi kerja, akibatnya
adalah makin berkurangnya kebutuhan akan tenaga kerja. Adapun cara-cara yang
dilakukan dengan pendekatan ini adalah:
-
memaksa orang untuk
bekerja dengan ancaman;
-
menganggap setiap orang
membutuhkan uang, dan untuk itu orang hanya mau bekerja hanya karena uang;
-
pekerja mau bekerja
didorong oleh rasa takut akan kehilangan pekerjaan;
-
pimpinan harus
memberitahu apa yang harus dikerjakan karyawan;
-
keleluasaan dalam
bekerja sedikit;
Kelemahan-kelemahan
ini adalah:
o orang
mau bekerja hanya karena takut ancaman
o tekanan
yang berlebihan akan menyebabkan bumerang bagi perusahaan
o tidak
menimbulkan kreativitas, karyawan akan frustasi
o karyawan
akan membentuk kelompok untuk melindungi diri dari tekanan
2)
Pendekatan motivasi secara Hubungan Manusiawi.
Elton
Mayo dan peneliti lainnya sebagaimana diuraikan Heidjrahman dan Suad Husan
(1983:202) menjelaskan bahwa kontak sosial yang dialami karyawan dalam bekerja
merupakan hal yang sangat penting bagi mereka, dan kebosanan serta rutinitas
pekerjaan merupakan hal-hal yang mengurangi motivasi mereka dalam bekerja. Para
manajer bisa memotivasi para karyawan dengan mengakui kebutuhan sosial mereka
dan membuat mereka merasa penting dan berguna. Sesuai pendapat ini pendekatannya
diterapkan melalui:
o memenuhi
kebutuhan para karyawan
o memperlakukan
karyawan secara adil dan layak
o memberi
kebebasan kepada karyawan untuk mengambil keputusan dalam menjalankan pekerjaan
mereka
o menciptakan
lingkungan kerja yang menyenangkan.
3)
Pendekatan dengan Tawar-Menawar secara Implisit.
Melalui
pendekatan ini manajemen mendorong karyawan untuk memberikan hasil kerja yang
layak sesuai dengan kompensasi yang layak. Perundingan biasanya merupakan
masalah yang implisit, tidak diutarakan secara lisan. Para bawahan bekerja
tidak ditentukan secara sepihak oleh manajer, tetapi melalui persetujuan antara
manajer dan bawahan. Melalui penerapan pendekatan ini maka:
o karyawan
dapat berkembang sepanjang pimpinan konsisten dengan persetujuan yang telah
dibuat kedua belah pihak sebelumnya
o pimpinan
dapat menegakkan disiplin karyawan
o pimpinan
memberi kelonggaran bagi karyawan dalam bekerja
o karyawan
harus konsisten pula dengan persetujuan yang telah dibuat
4)
Pendekatan Motivasi dengan Persaingan.
Pendekatan
ini dilakukan melalui persaingan untuk kenaikan gaji atau untuk promosi melalui
hasil pekerjaan yang dicapai. Karyawan yang berprestasi akan mendapat tambahan
gaji atau promosi yang lebih tinggi. Persaingan seperti ini akan menimbulkan
motivasi bagi karyawan untuk bekerja lebih baik.
Melalui
pendekatan ini, pimpinan sebenarnya tidak perlu mendorong para karyawan untuk
bekerja lebih rajin, karena masing-masing sudah termotivasi untuk mengejar bonus
yang disediakan. Kelemahan pendekatan ini adalah:
§ tidak
semua orang mempunyai ambisi yang sama untuk bersaing
§ persaingan
yang berlaku dapat merusak dan membahayakan perusahaan
§ bagi
perusahaan besar, sulit menentukan siapa yang paling berprestasi
§ usaha-usaha
untuk mendorong persaingan kadang-kadang dapat dianggap sebagai tekanan dan
dapat menimbulkan frustasi di kalangan karyawan
5)
Pendekatan Motivasi Terinternalisasi.
Dengan
pendekatan ini karyawan diberi kesempatan untuk memenuhi kebutuhannya melalui
pekerjaan itu sendiri. Dengan demikian orang senang melakukan pekerjaannya
dengan baik. Dalam pendekatan ini ada hal-hal penting yang perlu diperhatikan
yaitu:
§ pimpinan
menciptakan kondisi agar karyawan dapat bekerja dengan baik
§ tidak
memerlukan motivasi ekonomi, melainkan kebutuhan ego seseorang ditonjolkan
§ karyawan
dianggap mempunyai kemampuan kreatif yang belum dimanfaatkan karena harus
diberi penyaluran
§ bekerja
lebih giat akan dapat memberi kepuasan lebih besar
§ jalankan
tugas perorangan maupun kelompok dalam suatu organisasi
2.4 Peran
HRD Dalam Motivasi Kerja Karyawan
Pertama-tama
yang perlu dilakukan pihak SDM adalah mengidentifikasi apakah yang menjadi
kebutuhan dari para karyawan. Berikut ini adalah beberapa hal yang berkaitan
dengan kebutuhan fisiologis yang harus diperhatikan oleh pihak SDM guna
memotivasi karyawan:
Ø Kebutuhan
akan pujian dan penghargaan spontan dari atasan
Ø Kebutuhan
akan perhatian dari para leader
Ø Kebutuhan
akan kesempatan untuk memegang tanggung jawab terhadap proyek atau task force
Dengan
demikian SDM harus dapat mengadakan pelatihan bagi para pemimpin untuk dapat
menjadi pemimpin yang bijaksana. Selain itu adanya pembagian tugas yang jelas
serta pengembangan kerja dapat menjadi salah satu jalan untuk memotivasi
karyawan.
Sedangkan hal-hal yang berkaitan
dengan kebutuhan fisiologis maka pihak SDM dapat memotivasi karyawan melalui
hal-hal berikut ini:
ü Adanya
pemberian insentif berdasarkan performance karyawan.
ü Adanya
kenaikan gaji tahunan.
Dengan demikian dapat diharapkan
SDM dapat dengan jeli mengidentifikasi kebutuhan karywan guna meningkatkan
motivasi kerja karyawan.
2.5 Sumber motivasi
·
Motivasi Internal yaitu motivasi dari dalam diri, dari
perasaan dan pikiran diri sendiri, tidak perlu adanya rangsangan dari luar.
Orang yang memiliki motivasi internal, akan memandang dirinya secara positif.
Sebagai contoh, seseorang yang melakukan aktivitas belajar secara terus menerus
tanpa adanya motivasi dari luar dirinya dan bila ditinjau dari segi tujuan
kegiatannya, orang tersebut ingin mencapai tujuan yang terkandung di dalam
perbuatan belajar itu sendiri, misal karena ingin mendapatkan pengetahuan,
bukan karena tujuan yang lain.
·
Motivasi eksternal yaitu motivasi dari luar atau mendapatkan
rangsangan dari luar. Sebagai contoh, motivasi seseorang timbul karena dari
bacaan yang memotivasi, lingkungan, atau dari kehidupan keseharian. Sehingga
bila ditinjau dari segi tujuannya orang tersebut tidak langsung terjun didalam
apa yang dilakukannya. Hal ini sangat diperlukan bagi orang yang tidak memiliki
motivasi internal.
Dari hal yang telah disebutkan di
atas, maka motivasi tidak hanya timbul dari dalam diri kita secara sendirinya
tetapi dapat ditimbulkan oleh faktor luar atau rangsangan luar. Dan motivasi
yang terdapat dalam diri saya lebih kepada motivasi eksternal. Motivasi
tersebut timbul tidak dari diri saya tetapi ditimbulkan oleh faktor luar
seperti termotivasi untuk mendapatkan hasil atau nilai yang baik, dari dukungan
orang tua, dan meraih cita-cita yang diinginkan.
Namun tak selamanya motivasi
eksternal itu timbul, sehingga kita perlu menumbuhkan motivasi internal dalam
diri kita. Dan berikut tips untuk menumbuhkan motivasi secara internal :
1.
Menciptakan Imbalan. Kalau kita melakukan sesuatu, misal bekerja
dengan sungguh-sungguh, maka akan mendapatkan kenaikan gaji. Dengan begitu diri
kita akan termotivasi untuk melakukan sesuatu yang berguna.
2.
Ambil selalu langkah kecil. Terkadang untuk mendapatkan
sesuatu yang besar perlu langkah-langkah kecil.
3.
Menciptakan Kesusahan. Hal ini merupakan kebalikan dari yang
pertama.
4.
Susun Rencana beserta langkah-langkahnya. Dengan
memiliki rencana, kita seolah-olah punya alur dan plot menuju tujuan secara
teratur. Secara tidak langsung ini akan memotivasi dalam mencapai tujuan.
MATERI HUKUM ADMINISTRASI NEGARA
PENGERTIAN AMDAL
Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan
penting suatu usaha atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang
diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha atau
kegiatan di Indonesia.
AMDAL
dibuat saat perencanaan suatu proyek yang diperkirakan akan memberikan pengaruh
terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Yang dimaksud lingkungan hidup adalah aspek fisik-kimia, ekologi,
sosial-ekonomi, sosial-budaya, dan kesehatan masyarakat.
Dasar hukum AMDAL adalah Peraturan Pemerintah
No. 27 Tahun 1999 tentang "Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Hidup".
Penentuan
kriteria wajib AMDAL Indonesia
menggunakan atau menerapkan penapisan 1 langkah dengan menggunakan daftar
kegiatan wajib AMDAL (one step scoping by pre request list). Daftar kegiatan
wajib AMDAL dapat dilihat di Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 11
Tahun 2006. Apabila kegiatan tidak tercantum dalam peraturan tersebut, maka
wajib menyusun UKL-UPL, sesuai dengan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup
Nomor 86 Tahun 2002.
LATAR
BELAKANG AMDAL
Kebijaksanaan
nasional pengelolaan lingkungan hidup menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997
tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah, pengelolaan lingkungan hidup
diselenggarakan atas tanggungjawab negara, asas pembangunan berkelanjutan, dan
asas manfaat untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan
lingkungan hidup dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan
pembangunan masyarakat Indonesia seluruhnya, yaitu terciptanya keselarasan,
keserasian dan keseimbangan antara manusia dengan lingkungan, antara manusia
dengan Tuhan yang Maha Esa, manusia dengan manusia; terjaminnya kepentingan
generasi saat ini dan akan datang; tercapainya kelestarian fungsi lingkungan
hidup serta terkendalinya pemanfaatan sumberdaya secara bijaksana.
Berdasarkan
kebijaksanaan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan (AMDAL), merupakan salah satu instrumen kebijaksanaan pengelolaan
lingkungan. Pelaksanaan AMDAL terhadap sesuatu rencana usaha atau kegiatan
dimaksudkan untuk mengetahui dampak besar dan penting, dan menetapkan Rencana
Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL).
Sesuai
UU No. 23 tahun 1997 menyatakan bahwa
kegiatan yang diprakirakan dapat menimbulkan suatu dampak besar dan penting
pada lingkungan dan sekitarnya diwajibkan melakukan studi tentang Analisis
Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Peraturan pelaksanaa dari Undang-Undang ini
dituangkan di dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 27 Tahun 1999
tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.
PERATURAN
PERUNDANG – UNDANGAN
Peraturan
perundang-undangan yang terkait dengan pelaksanaan Studi Analisis Mengenai
Dampak Lingkungan (AMDAL) antara lain :
Undang-Undang
RI No. 5 Tahun 1960 Tentang Pokok -pokok Agraria.
Undang-Undang
RI No. 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistem
(Lembaran Negara RI Tahun 1990 No. 49 Tahun 1990 Tambahan Lembaran Negara No
3419).
Undang-Undang
RI No. 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Permukiman
Undang-Undang
RI No. 14 Tahun 1992 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.
Undang-Undang
RI No. 24 Tahun 1992 Tentang Penataan Ruang (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 1992 No. 115, Tambahan Lembaran Negara No 3501).
Undang-Undang
RI No. 5 Tahun 1994 Tentang Pengesahan United Nations Conventation On
Biological Diversity (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Mengenai
Keanekaragaman Hayati
Undang-Undang
RI No 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Republik
Indonesia Tahun 1997 No. 68 Tambahan Lembaran Negara No. 3699).
Undang-Undang
RI No 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah
Undang-Undang
RI No. 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan
Peraturan
Pemerintah RI No. 22 Tahun 1982 Tentang Tata Pengaturan Air.
Peraturan
Pemerintah RI No. 28 Tahun 1985 Tentang Perlindungan Hutan.
Peraturan
Pemerintah RI No 35 Tahun 1991 Tentang Sungai.
Peraturan
Pemerintah RI No.69 Tahun 1996 Tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban, serta
Bentuk dan Tata Cara Peran serta Masyarakat dalam Penataan Ruang.
Peraturan
Pemerintah RI No. 24 Tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah untuk Penggantian.
Peraturan
Pemerintah RI No. 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan
Hidup (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 No. 59 Tambahan Lembaran
Negara No.3838).
Peraturan
Pemerintah RI No. 41 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Udara.
Peraturan
Pemerintah RI No. 20 Tahun 2001 Tentang Pembinaan dan Pengawasan Pembangunan
Peraturan
Pemerintah RI No. 82 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian
Pencemaran Air.
Keputusan
Presiden RI No 32 Tahun 1990 Tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.
Keputusan
Presiden RI No 75 Tahun 1990 Tentang Koordinasi Pengelolaan Tata Ruang
Nasional.
Keputusan
Presiden RI No. 552 Tahun 1993 Tentang Pengadaan Tanah Pelaksanaan Pembangunan
untuk Kepentingan Umum.
Keputusan
Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup No. 02/MENKLH/1988 tentang
Pendoman Penetapan Baku Mutu Lingkungan
Keputusan
Menteri PU.No 45/PRT/1990 tentang Pengendalian Mutu Air pada Sumber-sumber Air.
Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-30/MENLH /7/1992 tentang Panduan
Pelingkupan untuk Penyusunan Kerangka Acuan ANDAL.
Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 056/1994 tentang Pedoman Mengenai Ukuran
Dampak Penting.
Keputusan
Menteri Pertambangan dan Energi No. 103.K/008/M.PE/1994 tentang Pengawasan atas
Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Rencana Pemantauan Lingkungan
dalam Bidang Pertambangan dan Energi.
Keputusan
Menteri PU. No 58/KPTS/1995 Petunjuk Tata Laksana AMDAL Bidang Pekerjaan Umum.
Keputusan
Menteri PU.No. 148/KPTS/1995 tentang Petunjuk Teknis Penyusunan RKL dan RPL,
Proyek Bidang Pekerjaan Umum.
Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-13/MENLH /3/1995 tentang Baku Mutu
Emisi Sumber Tidak Bergerak.
Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-43/MENLH/ 10/1996 tentang Kriteria
Kerusakan Lingkungan Bagi Usaha atau Kegiatan Penambangan Bahan Galian Golongan
C Jenis Lepas di Daratan.
Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-48/MENLH/ 11/1996 tentang Baku Mutu
Tingkat Kebisingan.
Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-49/MENLH/ 11/1996 tentang Baku Tingkat
Getaran.
Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-50/MENLH /11/1996 tentang Baku Tingkat
Kebauan.
Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-45/MENLH/10/1997 tentang Indeks Standar
Pencemar Udara.
Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-03/MENLH /1/1998 tentang Baku Mutu
Limbah Cair Bagi Kawasan Industri.
Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 17 tahun 2001 tentang Jenis Rencana Usaha
dan/atau Kegiatan yang Wajib dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan Hidup.
Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 37 Tahun 2003 tentang Metoda Analisis
Kualitas Air Permukaan dan Pengambilan Contoh Air Permukaan.
Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 110 Tahun 2003 tentang Pedoman Penetapan
Daya Tampung Beban Pencemaran Air pada Sumber Air.
Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 112 Tahun 2003 tentang Baku Mutu Air Limbah
Domestik.
Keputusan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 142 Tahun 2003 tentang Pedoman Mengenai
Syarat dan Tata Cara Perizinan serta Pedoman Kajian Pembuangan Air Limbah ke
Air atau Sumber Air.
Keputusan
Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. KEP-205/BAPEDAL/07/1996 tentang
Pedoman Teknis Pengendalian Pencemaran Udara Sumber Tidak Bergerak.
Keputusan
Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. KEP-299/11/1996 tentang Pedoman
Teknis Kajian Aspek Sosial dalam Penyusunan AMDAL.
Keputusan
Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. KEP-105 tahun 1997 tentang
Panduan Pemantauan Pelaksanaan Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL) dan Rencana
Pemantauan Lingkungan (RPL).
Keputusan
Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. 107/BAPEDAL/2/1997 tentang
Perhitungan dan Pelaporan serta Informasi Indeks Standar Pencemar Udara.
Keputusan
Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. KEP-124/12/1997 tentang Panduan
Kajian Aspek Kesehatan Masyarakat dalam Penyusunan AMDAL.
Keputusan
Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. 08 tahun 2000 tentang
Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL.
Keputusan
Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan No. 09 tahun 2000 tentang Pedoman
Penyusunan AMDAL.
DASAR
HUKUM AMDAL
Sebagai
dasar hukum AMDAL adalah PP No.27/ 1999 yang di dukung oleh paket keputusan
menteri lingkungan hidup tentang jenis usaha atau kegiatan yang wajib
dilengkapi dengan AMDAL dan keputusan kepala BAPEDAL tentang pedoman penentuan
dampak besar dan penting.
TUJUAN
DAN SASARAN AMDAL
Tujuan
dan sasaran AMDAL adalah untuk menjamin suatu usaha atau kegiatan pembangunan
dapat berjalan secara berkesinambungan tanpa merusak lingkungan hidup. Dengan
melalui studi AMDAL diharapkan usaha
atau kegiatan pembangunan dapat memanfaatkan dan mengelola sumber daya
alam secara efisien, meminimumkan dampak negatip dan memaksimalkan dampak
positip terhadap lingkungan hidup.
TANGGUNG
JAWAB PELAKSANAAN AMDAL
Secara
umum yang bertanggung jawab terhadap koordinasi proses pelaksanaan AMDAL adalah
BAPEDAL (Badan Pengendalian Dampak Lingkungan).
AMDAL
DAN PERJANJIAN.
Agar pelaksanaan AMDAL berjalan efektif dan dapat
mencapai sasaran yang diharapkan , pengawasannya dikaitkan dengan mekanisme
perijinan rencana usaha atau kegiatan. Berdasarkan PP no.27/ 1999 suatu ijin
untuk melakukan usaha dan/ atau kegiatan baru akan diberikan bila hasil dari
studi AMDAL menyatakan bahwa rencana usaha dan/ atau kegiatan tersebut layak
lingkungan. Ketentuan dalam RKL/ RPL menjadi bagian dari ketentuan ijin.
Pasal
22 PP/ 1999 mengatur bahwa instansi yang bertanggung jawab (Bapedal atau
Gubernur) memberikan keputusan tidak layak lingkungan apabila hasil penilaian
Komisi menyimpulkan tidak layak lingkungan. Keputusan tidak layak lingkungan harus
diikuti oleh instansi yang berwenang menerbitkan ijin usaha. Apabila pejabat
yang berwenang menerbitkan ijin usaha tidak mengikuti keputusan layak
lingkungan, maka pejabat yang berwenang tersebut dapat menjadi obyek gugatan
tata usaha negara di PTUN. Sudah saatnya sistem hukum kita memberikan ancaman
sanksi tidak hanya kepada masyarakat umum , tetapi harus berlaku pula bagi
pejabat yang tidak melaksanakan perintah Undang-undang seperti sanksi disiplin
ataupun sanksi pidana.
PROSEDUR
PENYUSUNAN AMDAL
Secara
garis besar proses AMDAL mencakup langkah-langkah sebagai berikut:
1.Mengidentifikasi
dampak dari rencana usaha dan/atau kegiatan
2.Menguraikan
rona lingkungan awal
3.Memprediksi
dampak penting
4.Mengevaluasi
dampak penting dan merumuskan arahan RKL/RPL.
Dokumen
AMDAL terdiri dari 4 (empat) rangkaian dokumen yang dilaksanakan secara
berurutan , yaitu:
1.Dokumen
Kerangka Acuan Analisis Dampak Lingkungan (KA-ANDAL)
2.Dokumen
Analisis Dampak Lingkungan (ANDAL)
3.Dokumen
Rencana Pengelolaan Lingkungan (RKL)
4.Dokumen
Rencana Pemantauan Lingkungan (RPL)
PERAN
SERTA MASYARAKAT
Semua
kegiatan dan /atau usaha yang wajib AMDAL, maka pemrakarsa wajib mengumumkan
terlebih dulu kepada masyarakat sebelum pemrakarsa menyusun AMDAL. Yaitu
pelaksanaan Kep.Kepala BAPEDAL No.08 tahun 2000 tentang Keterlibatan masyarakat
dan keterbukaan informasi dalam proses AMDAL. Dalam jangka waktu 30 hari sejak
diumumkan , masyarakat berhak memberikan saran, pendapat dan tanggapan. Pada
proses penilaian AMDAL dalam KOMISI PENILAI AMDAL maka saran, pendapat dan tanggapan masyarakat
akan menjadi dasar pertimbangan penetapan kelayakan lingkungan suatu rencana
usaha dan/atau kegiatan.
KEBERHASILAN
IMPLEMENTASI AMDAL DI DAERAH.
Sebagai
syarat keberhasilan implementasi AMDAL di daerah adalah:
1.Melaksanakan
peraturan/ perundang-undangan yang ada
Contoh:
Sebelum
pembuatan dokumen AMDAL pemrakarsa harus melaksanakan Keputusan Kepala Bapedal
8 tahun / 2000 tentang Keterlibatan Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam
Proses AMDAL yaitu harus melaksanakan konsultasi masyarakat sebelum pembuatan
KA. Apabila konsultasi masyarakat berjalan dengan baik dan lancar, maka
pelaksanaan AMDAL serta implementasi RKL dan RPL akan berjalan dengan baik dan
lancar pula. Hal tersebut akan berimbas pada kondisi lingkungan baik lingkungan
fisik / kimia, sosial-ekonomi-budaya yang kondusif sehingga masyarakat terbebas
dari dampak negatif dari kegiatan dan masyarakat akan sehat serta perekonomian
akan bangkit.
2.Implementasi
AMDAL secara profesional, transparan dan terpadu.
Implementai AMDAL, RKL dan RPL yang optimal
akan meminimalkan dampak negatif dari kegiatan yang ada. Dengan demikian akan
meningkatkan status kesehatan, penghasilan masyarakat meningkat dan masyarakat
akan sejahtera. Selain itu pihak industri dan /atau kegiatan dan pihak
pemrakarsa akan mendapatkan keuntungan yaitu terbebas dari tuntutan hukum ( karena tidak mencemari lingkungan ) dan
terbebas pula dari tuntutan masyarakat (
karena masyarakat merasa tidak dirugikan ). Hal tersebut akan lebih mudah untuk
melakukan pendekatan sosial-ekonomi-budaya dengan masyarakat di sekitar pabrik/
industri/ kegiatan berlangsung.
MATERI KOMUNIKASI ORGANISASI
1.
PENGERTIAN
KOMUNIKASI ORGANISASI
Definisi
komunikasi : sebuah tindakan untuk berbagi informasi, gagasan atau pendapat dari
setiap partisipan komunikasi yang terlibat didalamnya guna mencapai kesamaan
makna.
Definisi
organisasi : sekelompok orang yang memiliki fungsi dan peranan masing-masing
dalam mencapai visi dan misi. Menurut para ahli :
1. W
Charles Redding & George A Sanborn
Komunikasi
organisasi adalah suatu kegiatan pengiriman dan penerimaan informasi dalam
konteks organisasi yang kompleks.
2. Daniel
Katz & Robert Khan
Komunikasi
organisasi tidak dapat dipisahkan dari arti arus informasi, yaitu adanya
tukar-menukar informasi dan transmisi arti suatu pesan dalam konteks
organisasi.
3. Harold Zelko & Frank Dance
Komunikasi organisasi akan selalu membicarakan
tentang skiil bisnis komunikasi dan keprofesionalan dalam :
a. Membantu
/ mendengarkan pidato
b. Mewawancarai
c. Memberikan
konsultasi
d. Menyelenggarakan
konferensi
e. Menjual
produk
f. Membujuk
klien
Komunikasi organisasi
tidak lain sebagai suatu sistem yang sifatnya interdependensi, karena berbicara
tentang :
1. Komunikasi
eksternl ( PR, sales, iklan )
2. Komunikasi
internal ( upward / downward / horisontal communication )
4. Raymond Lesikar
Bahwa
komponen atau dimensi komunikasi yang disebutkan oleh Zelko & Dance
(komunikasi internal & eksternal) harus ditambah satu komponen lagi, yaitu
dimensi ketiga komunikasi personal, tidak lain dimaksudkan sebagai pertukaran
informasi dan perasaan diantara anggota di dalam suatu organisasi.
5. Lee
Thayer
Masalah-masalah
dalam komunikasi organisasi dapat dipecahkan dengan bantuan arus data yang
digunakan dalam proses komunikasi internal, menurut Lee Thayer ada 3 cara :
1. Operasional
(mencari konsistensi data)
2. Pengaturan
(tentang perintah / instruksi dan aturan-aturan lain)
3. Pemeliharaan
dan pengembangan (dalam kegiatan PR, ER, iklan)
6. Richard
Huseman
Ia membatasi
pengertian komunikasi organisasi hanya dalam arti :
1. Struktur
organisasi
2. Motivasi
3. Skill
komunikasi
7. Howard
Greenbaum
Mengatakan bahwa
komunikasi organisasi termasuk di dalamnya pengertian tentang :
1. Arus
informasi formal dan informal
2. Komunikasi
eksternal dipisahkan dari komunikasi internal
Akan
tetapi yang penting adalah ;
a. Unsur
koordinasi di dalam mencapai tujuan individu dan organisasi
b. Aktivitas di
dalam memecahkan suatu masalah yang terkait dalam organisasi
2.
FUNGSI
KOMUNIKASI ORGANISASI
1. Fungsi
informative
Organisasi
dipandang sebagai suatu sistem pemrosesan informasi bahwa seluruh anggota daalm
suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang lebih banyak, lebih
baik dan tentu saja tepat waktu. Dengan informasi yang diperoleh memungkinkan
para anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaan dalam organisasi tersebut
secara lebuh pasti.
2. Fungsi
regulative
Fungsi
ini berkaitan dengan aturan-aturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Ada 2
hal yang berkaitan dengan fungsi regulative ini, yaitu :
a. Orang-orang
yang berada dalam tataran managemen yaitu yang memiliki kewenanagan untuk
pengendali informasi yang disampaikan. Disamping itu juga memiliki kewenangan
memberi perintah.
b. Berkaitan
dengan pesan atau message. Dalam hal ini pesan-pesan regulative adalah yang
berorientasi pada pekerjaan, artinya para bawahan membutuhkan adanya kepastian
peraturan tentang pekerjaan yang boleh atau tidak boleh dilaksanakan.
3. Fungsi
persuasive
Fungsi
ini berkaitan dengan mempersuasi, artinya ada kalanya kekuasaan dan kewenangan
tidak dapat mencapai hasil sesuai dengan yang diharapkan, untuk itu para atasan
mempersuasi bawahan dalam melaksanakan tugas daripada memberi perintah karena
hasil yang akan dicapai menjadi lebih baik.
4. Fungsi
integrative
Setiap
organisasi berusaha untuk meyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat
melaksanakan tugas dan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Hal tersebut dapat
dilaksanakan dengan dua alasan yaitu secara formal dan informal. Pelaksanaan
aktifitas baik formal atau informal akan menumbuhkan keinginan untuk berpartisipasi
yang lebih besar dalam diri karyawan terhadap organisasi.
3.
BENTUK-BENTUK
KOMUNIKASI ORGANISASI
1. Komunikasi
internal adalahpertukaran gagasan diantara para administrator dan karyawan
mereka dalam suatu perusahaan dengan struktunya yang khas dan pertukaransecara
horisontal dan vertikal dalam suatu perusahaan yang menyebabkan pekerjaan
berlangsung.
2. Komunikasi
eksternal adalah komunikasi antara pimpinan organisasi dengan khalayak diluar
organisasi.
4.
DIMENSI-DIMENSI
KOMUNIKASI INTERNAL DAN EKSTERNAL
1. Komunikasi
internal
Adalah pertukaran
gagasan diantara para administrator dan karyawan dalamsuatu perusahaan, dallam
struktur lengkap yang khas disertai pertukaran gagasan secara horisontal dan
vertikal di dalam perusahaan, sehingga perusahaan berjalan (operasi dan
manajemen).
a. Komunikasi
vertikal yaitu komunikasi dari pimpinan ke staff dan dari staff ke pimpinan
dengan cara timbal balik.
b. Komunikasi
horisontal yaitu komunikasi mendatar antara anggota staff dengan anggota staff,
komunikasi ini berlangsung tidak formal berbeda dengan komunikasi vertikal yang
formal.
c. Komunikasi
diagonal yaitu komunikasi antara pimpianan seksi / bagian dengan pegawai seksi
/ bagian lain.
v Dimensi
komunikasi internal
a. Komunikasi
personal
Komunikasi yang
berlangsung secara dialogis saling menatap, sehingga terjadi kontak pribadi.
Sedangkan komunikasi personal media adalah komunikasi dengan menggunakan alat /
media.
b. Komunikasi
kelompok
Komunikasi antara
seorang dengan sekelompok orang lain dalam situasi tatap muka, kelompok bisa
kecil atau besar.
2. Komunikasi
eksternal
Adalah komunikasi
antara pimpinan organisasi dengan masyarakat diluar organisasi.
a. Komunikasi
dari organisasi kepada masyarakat.
b. Komunikasi
dari masyaratak kepada organisasi.
v Dimensi
komunikasi eksternal
a. Komunikasi
dari organisasi ke masyarakat
Pada umumnya bersifat
informatif yang dilakukan sedemikian rupa sehingga masyarakat merasa ada
keterlibatan, setidak-tidaknya ada hubungan batin.
b. Komunikasi
dari masyarakat ke organisasi
Merupakan umpan balik
sebagai efek dari kegiatan komunikasi yang dilakukan oleh organisasi. Jika
informasi yang disebarkan kepada masyarakat itu menimbulkan efek yang sifatnya
kontroversial, maka disebut opini publik.
MATERI PERILAKU ORGANISASI
GAYA KEPEMIMPINAN PEREMPUAN BAGI
EFEKTIVITAS ORGANISASI
Pendahuluan
Kepemimpinan sering kali
didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mempengaruhi kelompok untuk
mencapai tujuan-tujuan tertentu (Robbins, 1998). Argumen yang diajukan diatas
adalah adanya kecenderungan perbedaan dalam gaya kepemimpian antara perempuan
dengan laki-laki karena sifatnya, tetapi untuk menjadi seorang pemimpin yang
efektif sehubungan dengan tujuan organisasi yang harus dicapainya, tidaklah
cukup hanya karena sifat perempuan atau karakteristik yang melekat pada dirinya,
melainkan faktor lainnya yang ikut mempengaruhi. Faktor-faktor yang harus
dipertimbangkan bagi efektivitas organisasi mencaku : pemilihan dan penempatan
pimpinan, pendidikan pimpinan, pemberian imbalan pada prestasi pimpinan dan
bawahan, teknik pengelolaan organisasi untuk menghadapi perubahan lingkungan
dan teknologi.
Faktor Bioligis Bagi Kepemimpinan
Para peneliti telah menemukan bahwa
para pemimpin yang efektif memiliki campuran biokimia yang unik antara hormon
dan kimia otak yang membantu mereka membangun aliansi sosial dan menangani
strees. Sebuah studi tentang tubuh manusia menemukan bahwa laki-laki yang
menduduki tingkat kepemimpinan yang paling tinggi memiliki tingkat serotonin
yang tinggi (Robbins, 1998). Dari segi dasar biologis memperlihatkan bahwa
laki-laki maupun perempuan memiliki potensi untuk menjadi pemimpin yang efektif
karena di dalam dirinya memiliki testosteron yang suatu saat dapat meningkat.
Meningkatnya testosteron pada perempuan atau laki-laki dapat meningkatkan rasa
percaya diri dan semangat seseorang untuk memotivasi diri sebagai pemimpin guna
mencapai tujuan.
Diskusi Tentang Perbedaan
Kepemimpinan Laki-Laki Dan Perempuan
Sehubungan dengan isu gender dan
kepemimpinan mengemukakan dua kesimpulan (Robbins, 1998). Pertama, menyamakan
antara laki-laki dan perempuan cenderung mengabaikan perbedaan antara keduanya.
Perempuan maupun laki-laki yang memilih karir manajerial cenderung memiliki
kesamaan dan dengan sifat kepribadian yang berkaitan dengan kepemimpinan,
seperti kecerdasan, kepercayaan diri, dan kemampuan bersosialisasi kemungkinan
lebih diterima sebagai para pemimpin dan mendorong untuk mengejar karir dimana
mereka dapat melaksanakan kepemimpinannya. Organisasi cenderung merekrut dan
mempromosikan orang-orang ke dalam jabatan kepemimpinan yang memiliki
unsur-unsur kepemimpinan, akibatnya tanpa memperlihatkan gendernya, orang yang
mencapai posisi kepemimpinan formal, baik perempuan maupun laki-laki cenderung
memperlihatkan kesamaan ketimbang perbedaannya.
Kedua, bahwa apa yang menjadi
perbedaan antara perempuan dan laki-laki adalah karena perempuan memiliki gaya
kepemimpinan yang lebih democratic, sedangkan laki-laki merasa lebih nyaman
dengan gaya yang bersifat directive ( menekankan pada cara-cara yang bersifat
perintah). Perempuan cenderung memimpin melalui pelibatan atau pemberdayaan dan
mendasarkan pada kharisma, keahlian, kontak, dan keahlian interpersonal dalam
mempengaruhi orang lain. Laki-laki cenderung lebih menggunakan gaya yang
mendasarkan pada kontrol dan perintah. Laki-laki secara historis telah memegang
mayoritas kepemimpinan dalam organisasi, cenderung mengasumsikan bahwa
perbedaan yang ada antara laki-laki dan perempuan justru memberikan kelebihan
pada laki-laki. Gaya kepemimpinan perempuan cenderung menggunakan negosiasi
dalam konteks hubungan yang berkesinambungan, yakni berusaha sedemikian rupa
untuk membuat pihak lain merasa menjadi pemenang untuk dirinya sendiri dan
merasa menjadi pemenang pula dimata orang lain (Robbins, 1998).
Tannen (1991, 1995) menekankan pada
cara perempuan dan laki-laki berkomunikasi, tetapi penjelasannya dapat
dipandang sebagai dukungan terhadap isu dengan membedakan antara kepemimpinan
perempuan dan laki-laki. Perbedaan perempuan dan laki-laki dlam berkomunikasi
adalah bahwa perempuan menekankan pada hubungan dan keakraban, sedangkan
laki-laki berbicara dan menekankan status dan kemandirian. Dalam penelitian
Tannen bahwa perempuan menekankan pada hubungan dan keakraban yang cenderung
dimiliki oleh perempuan, memungkinkan seorang pemimpin bersikap egalitarian,
memberdayakan segenap anggotanya, serta menekankan struktur organis. Sedangkan
pemimpin yang menekankan pada status dan kemandirian cenderung dimiliki
laki-laki memungkinkan pemimpin tersebut mengadopsi struktur hirarkis,
spesialisasi dan perintah.
Meningkatkan Efektivitas
Kepemimpinan dan Organisasi
Untuk menjadi pemimpin yang efektif bagi
organisasi, bukan karena maskulinitas atau femininitasnya, melainkan
kapasitasnya untuk memimpin. Efektifitas pemimpin untuk mampu mencapai
efektifitas organisasi dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Faktor tersebut
meliputi : 1. Pemilihan dan penempatan pemimpin, 2. Pendidikan kepemimpinan, 3.
Pemberian imbalan pada prestasi pemimpin dan bawahan, 4. Teknik pengelolaan
organisasi untuk menghadapi perubahan lingkungan, 5. Teknologi ( Lihat Steers,
1985, Jones, 1995).
1. Pemilihan dan Penempatan Pemimpin
Menurut Ghiselli (dalam Steers, 1985), potensi dasar
yang harus dipenuhi pemimpin yang efektif dapat membawa pada pencapaian
efektivitas organisasi adalah pemimpin memiliki ciri-ciri pribadi, yang
meliputi : kecerdasan yang tinggi, kepekaan pada variasi situasi, inisiatif,
kepercayaan diri, dan kepribadian.
Fiedler dala Steers 1985, seorang pemimpin dengan
gaya yang otoriter dan berorientasi pada tugas mungki lebih cocok untuk
lingkingan kerja yang mempunyai ciri-ciri struktur tugas yang tinggi,
kewenangan tersentralisir, dan hubungan atasan dan bawahan yang sangat formal
dan kaku. Sebaliknya, seorang pemimpin
yang berorientasi pada pemberdayaan segenap anggota dengan menganggap
seluruh komponen merupakan bagian penting, mungkin lebih cocok dengan situasi
yang bercirikan tidak kaku, humanis, desentralistis dalam hal kekuasaan dan
menekankan pengaruh ketimbang paksaan, dan hubungan atasan bawahan yang erat
(Morgan & Murgatroyd, 1994).
2.
Pendidikan
Kepemimpinan
Menurut Campbell (dalam Steers, 1985) ada lima jenis
program pendidikan untuk meningkatkan efektivitas kepemimpinan, yaitu : 1. Program manajemen umum,
mengembangkan keterampilan manajemen secara luas, 2. Program hubungan antara
manusia, memperhatikan masalah antar pribadi, 3. Program pemecahan masalah dan
pembuatan keputusan, 4. Program pendidikan laboratorium, menekankan pendekatan eksperimental untuk memberi
penerangan pada para manajer mengenai perilaku mereka sendiri, 5. Program
khusus, berbagai ragam penting yang relevan bagi organisasi.
3.
Pemberian
Imbalan Prestasi Pemimpin
Pemenuhan kenaikan gaji, promosi untuk memuaskan
kebutuhan didasarkan pada kemempuan manajer dalam membawa para anggota pada
kegiatan yang diarahkan untuk mencapai tujuan. Manajer akan cenderung
menganggap perilaku pemimpinnya yang efektif sebagai sarana mendapatkan imbalan
yang diinginkan untuk memuaskan kebutuhannya ( Steers, 1985).
4.
Teknik
Manajemen Organisasi Untuk Menghadapi Perubahan Lingkungan
Perubahan struktur organisasi disamping dapat
meningkatkan efektivitas kepemimpinan juga dapat meningkatkan kemampuan
organisasi untuk beradaptasi dengan lingkungan yang berubah, serta dengan
perubahan struktur organisasi, efektivitas kepemimpinan dan organisasi dapat
ditingkatkan.
5.
Teknologi
Melalui teknologi pemimpin organisasi dapat
meningkatkan usahanya untuk berinovasi, mengembangkan produk baru, pelayanan,
proses dan mengurangi waktu yang diperlukan untuk membawa produk-produk baru ke
pasar lokal, nasional maupun global. Pemimpin organisasi dapat memperbaiki
efisiensi dan mengurangi biaya sambil meningkatkan kualitas dan reliabilitas
produk-produk atau pelayanannya.
MATERI BUDAYA ORGANISASI
Pengertian Budaya
Hofstede menurunkan konsep budaya dari
program mental yang dibedakan dalam 3 tingkatan ( Hofstede 1980 : 15 ),yaitu 1.
Tingkat Universal,yaitu program mental yang dimiliki oleh seluruh manusia, 2.
Tingkat Collective,yaitu program mental yang dimiliki oleh beberapa,tidak semua
manusia, 3. Tingkat Individual,yaitu program mental yang unik yang dimiliki
oleh seorang saja,dua orang tidak akan memiliki program mental yang sama
persis.
Program mental Hosftede dijelaskan
dalam 2 konstruk yaitu value ( nilai ) dan culture ( budaya ). Nilai
didefinisikan sebagai suatu tendensi yang luas untuk menunjukkan State Of
Affairs tertentu atas lainnya,yang pengukurannya menggunakan belief,atitudes,personality.
Sedang culture didefinisikan oleh Hosftede ( 1991 : 4 ) sebagai program mental
yang berpola pikiran ( thinking ),perasaan ( feeling ),dan tindakan ( action
),atau disebut “ software of the mind “.
Tingkatan Budaya
Hosftede
menurunkan budaya dari tingkatan yang kedua ( collective ) sehingga budaya
adalah sesuatu yang dapat dipelajari bukan merupakan suatu gen tetapi
diturunkan dari lingkungan sosial,organisasi maupun kelompok lain.
Hosftede ( 1991 : 10 )
mengkategorikan lapisan budaya untuk mengelompokkan kebiasaan orang sesuai
dengan lingkungan :
v Tingkat nasional
( national level ) berdasarkan suatu negara
v Tingkat daerah (
regional ),dan atau suku ( ethnic ),dan atau agama ( religion ),dan atau bahasa
( lingistic )
v Tingkat
perbedaan jenis kelamin ( gender )
v Tingkat
generasi,misal orang tua dengan anak – anak
v Tingkat
sosial,dihubungkan dengan pendidikan,pekerjaan atau profesi
v Tingkat generasi
/ perusahaan
DIMENSI BUDAYA
Beberapa teori yang mendasari
penemuan dimensi budaya hosftede,antara lain Kluckhon’s ( 1952 ) menjelaskan
tentang dimensi budaya dalam 10 “ Primary Message System ” yaitu : Interaction,
Association, Subsistence, Isexuality, Teritorality, Temporality, Learning,
Play, defense, dan Exploitation.
Berdasarkan
analisis faktor, Hosftede ( 1980 ) secara empiris menemukan ada 4 dimensi
program mental,yaitu :
1.
Perbedaan kekuasaan, merupakan dimensi budaya yang
menunjukkan adanya ketid ak sejajaran bagi anggota yang tidak mempunyai
kekuatan dalam suatu institusi / organisasi.
2.
Pengelakan terhadap ketidak pastian, merupakan dimensi
budaya yang menjelaskan sifat masyarakat dalam menghadapi lingkungan budya yang
tidak terstruktur, tidak jelas dan tidak dapat diramalkan.
3.
Individualitas vs Kolectivitas, merupakan dimensi
kebudayaan yang menunjukkan adanya sikap yang memandang kepentingan pribadi dan
keluarga sehingga kepentingan utama atau srbgai kepentingan bersama dlam suatu
kelompok.
4.
Maskulinitas vs Femininitas, merupakan dimensi kebudayaan
yang menunjukkan bahwa dalam tiap masyarakat terdapat peran yang berbeda – beda
tergantung perbedaan jenis para anggotanya.
DIMENSI BUDAYA
DAN STRUKTUR ORGANISAI
1.
Power Distance & Struktur Hirarki
Power Distance berhubungan dengan bagaimana masyarakat menerima kenyataan
bahwa kekuasaan pada suatu institusi dan organisasi didistribusikan secara
tidak sama. Hirarki menunjukkan bagaimana organisasi mendistribusikan kekuasaan
diantara anggota.
2.
Uncertainty Avoidance & Sistem Monitoring
Uncertainty Avoidance berhubungan dengan kenyataan menghadapi suatu ketidak
pastian dimasa yang akan datang dan bagaimana tingkat reaksi menghadapinya.
Sistem Monitoring digunakan untuk memonitoring suatu proses dari suatu
organisasi. Organisasi yang mempunyai budaya pengelakan kepastian rendah,
cenderung menggunakan sistem monitoring yang simpel, sedang organisasi yang
mempunyai pengelakan ketidak pastian maka mempunyai sistem monitoring yang
komplek dan teliti.
3.
Individualism /
Collectivism dan sistem Evaluasi
Dimensi ini berhubungan dengan hubungan antara individu dan kelompok dimana
individu menjadi anggotanya. Masyarakat yang mempunyai budaya dan tingkat
individualisme tinggi akan memberikan kebebasan personal dan otonomi kepada
kepentingan individu. Sistem evaluasi yang dirancang dalam suatu organisasi
akan memperhatikan budaya yang mempengaruhi kehidupan organisasi. Bagi
organisasi yang tingkat individualisme tinggi, sistem evaluasi akan dirancang
berdasarkan pada perilaku dan pencapaian setiap individu.
4.
Masculinity / Famininity dan Sistem Reward
Dimensi ini
menunjukkan suatu nilai – nilai yang dominan dalam suatu kelompok yang
berkaitan dengan pekerjaan. Masyarakat maskulin, nilai yang dominan adalah untuk
show of, perform, achieve dan make money, sedang masyarakat feminin, nilai yang
dominan adalah berorientasi pada manusia, kualitas kehidupan dan lingkungan.
Organisasi yang mempunyai budaya maskulin mempunyai reward yang didasarkan
pengakuan individu dan promosi, bonus, sedang organisasi iddengan budaya
feminin sistem reward akan didasarkan pada sistem kerja sama, keamanan,dan rasa
memiliki.
5.
Motivasi
Teori motivasi
dapat dibagi dalam 2 kategori yaitu : 1. Content theory yang memfokuskan pada
faktor dalam diri seseorang yang memberi kekuatan, mengarahkan, mendukung, dan
menghentikan suatu perilaku, 2. Process theory yang menggambarkan dan
menganalisa bagaimana perilaku didorong,diarahkan,didukung, dan dihentikan oleh
faktor eksternal seseorang. Konsep motivasi dalam Content teory dikembangkan
oleh David McClelland, Abraham Maslow, Alderfer, dan Fredrick Herberg. Menurut
McClelland seseorang melakukan sesuatu karena mempunyai suatu kebutuhan yang
ingin dicapai. Process theory dikembangkan oleh Victor Vroom, Skinner, Adams,
dan Locke. Vroom mendefinisikan suatu proses yang mengatur pemilihan diantara
beberapa bentuk alternatif dari aktivitas sukarela.
6.
Kepuasan kerja
Vroom ( 1960 )
menemukan faktor – faktor yang mempengaruhi kepuasan kerja, yaitu : Supervisi,
Kelompok kerja, Job content,Upah, Kesempatam promosi, dan Jam kerja. Harell dan
Stahl ( 1984 ) menemukan bahwa kebutuhan
akan afilisasi dengan yang lain mempunyai korelasi negatif dengan kepuasan
kerja, sedangkan kebutuhan akan kekuasaan mempunyai hubungan positif dengan
kepuasan kerja.
EFEKTIVITAS
ORGANISASI
Robbins
( 1990 : 49 ) mendefinisikan efektivitas organisasi sebagai suatu tingkat
dimana suatu organisasi dapat merealisasikan tujuan. Beberapa faktor kritis
dalam mengukur keberhasilan suatu organisasi tergantung pada beberapa
indikator. Kaplan & Nortor ( 1992, 1993, 1996 ) menemukan suatu model yang
memberikan alternatif untuk perbaikan dalam pengukuran efektivitas organisasi /
kinerja kualitatif, yaitu : 1. Keuangan, 2. Pelanggan, 3. Internal proses, 4.
Inovasi.
BEBERAPA
PENDEKATAN DALAM PENGUJIAN EFEKTIVITAS ORGANISASI
Robbin ( 1990 : 53 ) mengklarifikasikan
4 pendekatan dalam mempelajari efektivitas organisasi, yaitu :
1.
Pendekatan Pencapaian Tujuan ( The Goal Attainment
Approach )
Pendekatan ini
menunjukan bahwa suatu efektivitas organisasi dinilai lebih pada kaitannya
dengan tujuan akhir daripada dengan prosesnya, kriteria umun yang digunakan
dalam pendekatan ini adalah maksimasi laba.
2.
Pendekata Sistem ( The System Approach )
Pendekatan ini
tidak menekankan pada tujuan akhir tetapi memasukkan seluruh kriteria dalam
satu element dan saling berinteraksi. Menekankan pada kelangsungan hidup
organisasi dalam jangka waktu panjang.
3.
Pendekatan Konstituen Strategis ( The
Strategic-Constituencies )
Pendekatan ini
menunjukakan bahwa organisasi yang efektif adalah organisasi yang dapat
memuaskan keinginan para konstituen dalam lingkungan.
4.
Pendekatan Nilai – Nilai Persaingan ( The Competing-Value
Approavh )
Pendekatan ini
menawarkan suatu kerangka yang lebih integratif dan lebih variatif, karena
kriteria yang dipilih dan digunakan tergantung pada posisi dan kepentingan
masing – masing dalam suatu organisasi. Sehingga dengan tingkat variatif yang
relatif tinggi, maka terdapat 3 perangkat dasar nilai – nilai, yaitu : 1.
Fleksibilitas versus Pengendalian, 2. Manusia versus Organisasi, 3. Proses
versus Tujuan akhir.
PENGUJIAN
EFEKTIVITAS ORGANISASI DALAM INSTITUSI PENDIDIDKAN
Karakteristik
organisasi nirlaba pada umumnya bertujuan tidak untuk mencari keuntungan,
evaluasi terhadap kinerja organisasi nirlaba ini tetap dilakukan dalam rangka
untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidup organisasi dengan cara yang
efektif dan efisian. Efektif dalam arti dapat mencapai tujuan yang telah
ditetapkan yaitu memberi pelayanan, baik kepada masyarakat secara luas maupun
kepada pihak – pihak internal organisasi, yaitu karyawan. Efisien berarti
menggunakan sumber daya yang tersedia untuk dapat menghasilkan output yang
maksimal.
MATERI AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
BAB
1
KARAKTERISTIK DAN LINGKUNGAN SEKTOR PUBLIK
A. PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
Istilah “Sektor Publik” sendiri memiliki pengertian yang
bermacam-macam. Dari sudut pandang ilmu ekonomi, sektor publik dapat dipahami
sebagai suatu entitas yang aktivitasnya berhubungan dengan usaha untuk
menghasilkan barang dan pelayanan publik dalam rangka memenuhi kebutuhan dan
hak publik.
Beberapa tugas dan fungsi sektor publik dapat juga dilakukan oleh
sektor swasta, misalnya : layanan komunikasi, penarikan pajak, pendidikan,
transportasi publik dan sebagainya. Adapun beberapa tugas sektor publik yang
tidak bisa digantikan oleh sektor swasta, misalnya : fungsi birokrasi
perintahan.
SIFAT DAN KARATERISTIK AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
Akuntansi sektor publik berbeda dengan akuntansi pada sektor swasta.
Perbedaan sifat dan karakteristik akuntansi tersebut disebabkan karena adanya
perbedaan lingkungan yang mempengaruhi. Komponen lingkungan yang mempengaruhi
organisasi sektor publik meliputi:
- Faktor ekonomi meliputi antara lain :
- Pertumbuhan ekonomi
- Tingkat inflasi
- Tenaga kerja
- Nilai tukar mata uang
- Infrastruktur
- Pertumbuhan pendapatan per kapita (GNP/GDP)
·
Faktor
politik meliputi antara lain :
o Hubungan negara dan masyarakat
o Legitimasi pemerintah
o Tipe rezim yang berkuasa
o Ideologi negara
o Elit politik dan massa
o Jaringan Internasional
o Kelembagaan
- Faktor kultural meliputi antara lain :
- Keragaman suku, ras, agama, bahasa dan budaya
- Sistem nilai di masyarakat
- Historis
- Sosiologi masyarakat
- Karakteristik masyarakat
- Tingkat pendidikan
- Faktor demografi meliputi antara lain :
- Pertumbuhan penduduk
- Struktur usia penduduk
- Migrasi
- Tingkat kesehatan
B. VALUE
FOR MONEY
Sektor publik sering dinilai sebagai inefisiensi ,pemborosan, sumber
kebocoran dana institusi yang selalu merugi. Tuntutan baru muncul agar
organisasi sektor publik memperhatikan value for money dalam menjalankan
aktivitasnya, dimana value of money merupakan konsep pengelolaan organisasi
sektor publik yang mendasarkan pada 3 elemen utama, yaitu :1. Ekonomi, 2.
Efisiensi, 3. Efektifitas.
Langkah –
langkah dalam akuntasi sektor publik :
1. Input
Input merupakan sumber daya yang digunakan untuk
pelaksanaan suatu kebijakan, program dan aktifitas . Contoh Input adalah :
dokter di rumah sakit, tanah untuk jalan baru , guru disekolah dan sebagainnya.
2. Output
Output merupakan hasil yang dicapai dari suatu program , aktifitas
dan kebijakan. Mengingat output lebih sulit dilakukan terutama untuk pelayanan sosial seperti pendidikan,
keamanan, dan kesehatan. Ringkasnya output merupakan kenaikan nilai atau nilai tambah.
3. Sasaran antara ( Throughput )
Analisis value for money memerlukan data input dan output
yang memadai karena value for money mempunyai kaitan erat dengan pengukuran
output dan input.Permasalahan yang sering kali muncul adalah tidak tersediannya
data yang lengkap terutama data output.
4. Outcome
Outcome adalah dampak yang ditimbulkan dari suatu aktifitas
tertentu. Outcome
sering kali dikaitkan dengan tujuan (objectives) atau target yang hendak
dicapai.
Manfaat
implementasi value of money :
1.
Meningkatkan efektifitas pelayanan publik
2. Meningkatkan
mutu pelayanan publik
3.Menurunkan
biaya pelayanan
publik
4.Alokasi dana
yang lebih berorientasi pada publik
5.Meningkatkan
kesadaran akan uang public
D.
PERBEDAAN DAN PERSAMAAN SEKTOR PUBLIK DAN SEKTOR SWASTA
Perbedaan sifat dan karakteristik sektor publik dengan sektor swasta
dapat dilihat dengan membandingkan beberapa hal, yaitu:
1. Tujuan
organisasi
Dilihat dari tujuannya, organisasi sektor publik berbeda dengan
sektor swasta. Perbedaan menonjol terletak pada tujuan memperoleh laba.
2. Sumber
pembiayaan
Sumber pembiayaan sektor publik berbeda dengan sektor swasta dalam
hal bentuk, jenis dan tingkat risiko.
3. Pola
pertanggungjawaban
Manajemen pada sektor swasta bertanggungjawab kepada pemilik
perusahaan (pemegang saham) dan kreditor atas dana yang diberikan. Pada sektor
publik manajemen bertanggung jawab kepada masyarakat karena sumber dana yang
digunakan organisasi sektor publik dalam rangka pemberian pelayanan publik
berasal dari masyarakat.
4. Struktur
organisasi
Struktur organisasi pada sektor publik bersifat birokratis, kaku,
dan hirarkis, sedangkan struktur organisasi pada sektor swasta lebih fleksibel.
5.
Karakteristik anggaran dan Stakeholder
Pada sektor publik stakeholder dibagi menjadi dua yaitu
internal dan eksternal, pada stakeholder internal antara lain adalah
lembaga negara (kabinet, MPR, DPR, dan sebagainya), Kelompok politik (partai
politik), manajer publik (gubernur BUMN, BUMD), pegawai pemerintah. Stakeholder
eksternal pada sektor publik seperti masyarakat pengguna jasa publik,
masyarakat pembayar pajak, perusahaan dan organisasi sosial ekonomi yang
menggunakan pelayanan publik sebagai input atas aktivitas organisasi.
6. Sistem
akuntansi yang digunakan
Perbedaan yang lain adalah sistem akuntansi yang digunakan. Pada
sektor swasta sistem akuntansi yang biasa digunakan adalah akuntansi yang
berbasis akrual. Sedangkan pada sektor publik lebih banyak menggunakan sistem
akuntansi berbasis kas.
E.
TUJUAN
AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
1.
Memberi
informasi yang diperlukan untuk mengelola secara tepat, efisien, dan ekonomis
atas suatu operasi dan alokasi sumber daya yang dipercayakan kepada organisasi.
2.
Memberi
informasi yang memungkinkan bagi manajer untuk melaporkan pelaksanaan
tanggungjawab mengelola secara tepat dan efektif program dan penggunaan sumber
daya yang menjadi wewenangnya, dan memungkinkan bagi pegawai pemerintah untuk
melaporkan kepada publik atas hasil operasi pemerintah dan penggunaan dana
publik.
F.
PERKEMBANGAN AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK
Anggapan bahwa sektor public mengalami kebangkrutan di Negara-negara
berkembang tidak sepenuhnya benar.Akuntansi sektor public berkembang pesat
dalam dua dasawarsa.
G.
AKUNTANSI
SEKTOR PUBLIK DAN GOOD GOVERNANCE
Pengertian governance dapat diartikan sebagai cara
mengelola urusan-urusan publik. World Bank
mendefinisikan good governance sebagai suatu penyelenggaraan manajemen
pembangunan yang solid dan bertanggung jawab yang sejalan dengan prinsip
demokrasi dan pasar yang efisien, penghindaran salah alokasi dana investasi,
dan pencegahan korupsi baik secara politik maupun administratif, menjalankan
disiplin anggaran serta penciptaan legal and political framework bagi tumbuhnya aktivitas usaha.
H.
AKUNTABILITAS PUBLIK
Adalah kewajiban pihak pemegang amanah untuk memberikan
pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan dan mengungkapkan segala aktivitas
dan kegiatan yang menjadi taggungjawabnya kepada pemberi amanah yang memiliki
hak dan kewajiban untuk meminta pertaggungjawaban tersebut.
Akuntabilitas publik terdiri atas 2 macam, yaitu : 1. Akuntabilitas verbal, 2. Akuntabilitas
Horisontal
Empat dimensi akuntabilitas yang harus dipenuhi oleh organisasi
sektor publik
:
1.Akuntabilitas kejujuran dan hukum
2.Akuntabilitas proses
3.Akuntabilitas program
4.Akuntabilitas kebijakan
I.
PRIVATISASI
BUMN
dan BUMD dalam era globalisasi akan menghadapi beberapa
tekanan dan tuntutan,yaitu:
1. Regulation
dan political pressure.
2. Social
pressure.
3. Rent
seeking behaviour.
4. Economic
dan efficiency.
J.
OTONOMI DAERAH
Misi utama UU No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan UU
No.25 Tahun 1999 tentang Penimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan
Daerah adalah desentralisasi.
Dua manfaat desentralisasi:
1.Mendorong peningkatan partisipasi, prakarsa dan kreativitas masyarakat dalam
pembangunan, serta mendorong pemerataan hasil pembangunan di seluruh daerah
dengan memanfaatkan sumber daya dan potensi yang tersedia di setiap daerah.
2.Memperbaiki
alokasi sumber daya produktif melalui pergeseran peran pengambilan keputusan
publik ke tingkat pemerintah yang paling rendah yang memilki informasi paling
lengkap.
BAB
2
AKUNTANSI
MANAJEMEN SEKTOR PUBLIK
A.
PENDAHULUAN
Akuntansi
manajemen sektor publik terkait dengan pelaporan informasi kepada pihak intern
organisasi, sedangkan akuntansi keuangan terkait dengan pelaporan dan
pengkomunikasian informasi kepada pihak eksternal organisasi.
B.
AKUNTANSI
SEBAGAI ALAT PERENCANA ORGANISASI
Akuntansi
manajemen berperan penting dalam memberikan informasi historis dan prospektif
untuk memfasilitasi perencanaan. Informasi akuntansi sebagai alat perencana
dibagi 3 yaitu :
1. Informasi
sifatnya rutin
2. Informasi
kuantitatif atau kualitatif
3. Informasi
disampaikan melalui saluran formal atau informal
C.
AKUNTANSI
SEBAGAI ALAT PENGENDALIAN ORGANISASI
Fungsi
utama informasi akuntansi adalah sebagai alat pengendalian. Informasi akuntansi
sebagai alat pengendalian keuangan dan pengendalian organisasi. Pengendalian
organisasi diperlukan untuk menjamin bahwa organisasi tidak menyimpang dari
tujuan dan strategi organisasi yang telah ditetapkan.
D.
PROSES
PERENCANAAN DAN PENGENDALIAN MANAJERIAL ORGANISASI SEKTOR PUBLIK
Tanpa pengendalian, perencanaan
tidak akan berarti karena tidak ada tindak lanjut untuk mengidentifikasi
rencana organisasi telah tercapai. Sebaliknya, tanpa ada perencanaan, maka
pengendalian tidak akan berarti karena tidak ada target yang digunakan sebagai
pembanding. Lima tahap perencanaan dan pengendalian manajerial :
1. Perencanaan
tujuan dan sasaran dasar
2. Perencanaan
operasional
3. Penganggaran
4. Pengendalian
dan pengukuran
5. Pelaporan,
analisis, dan umpan balik
E.
PERAN
AKUNTANSI MANAJEMEN SEKTOR PUBLIK
Peran
utama akuntansi manajemen adalah memberikan informasi akuntansi yang relevan
dan handal kepada manajer untuk perencanaan dan pengendalian organisasi.
1. Perencanaan
strategik
v Akuntansi
manajemen memberikan informasi untuk menentukan biaya program dan biaya
aktivasi
v Akuntansi
manajemen dihadapkan pada permasalahan efisiensi biaya, kualitas produk dan
pelayanan.
v Kualitas
pelayanan publik yang tinggi dan murah, dapat diperoleh jika pemerintah
mengadopsi sistem informasi manajemen yang modern.
v Peran
manajer organisasi sektor publik sangat penting dalam mengendalikan biaya.
2. Pemberian
Informasi Biaya
Kategori biaya dalam organisasi
sektor publik : a. Biaya Input, b. Biaya Output, c. Biaya Proses.
Akuntansi
manajemen sektor publik memiliki peran yang strategis dalam perencanaan
finansial.
Proses penentuan biaya meliputi :
v Cost
Finden
v Cost
Recording
v Cost
Analysing
v Strategic
Cost Reduction
v Cost
Reporting
3. Penilaian
Investasi
Akuntansis
manajemen dibutuhkan untuk manilai kelayakan investasi secara ekonomi dan
finansial.
4. Penganggaran
Akuntansi
manajemen berperan untuk memfasilitasi tercapainya anggaran publik yang
efektif.
5. Penentuan
Biaya Pelayanan
Akuntansi
manajemen digunakan untuk menentukan biaya, tarif dan subsidi bagi pelayanan publik.
6. Penilaian
Kinerja
Akuntansi
manajemen berperan dalam penyusunan indikator kinerja kunci.
BAB
3
SISTEM
PENGENDALIAN MANAJEMEN SEKTOR PUBLIK
A.
SISTEM
PENGENDALIAN MANAJEMEN SEKTOR PUBLIK
Organisasi
memerlukan sistem pengendalian manajemen untuk memberikan jaminan
dilaksanakannya strategi organisasi secara efektif dan efisien sehingga tujuan
organisasi dapat dicapat. Pengendalian manajemen meliputi beberapa aktifitas
yaitu :
1.
Perencanaaan
2.
Koordinasi antar berbagai bagian dalam
organisasi
3.
Komunikasi informasi
4.
Pengambilan keputusan
5.
Memotivasi orang – orang dalam
organisasi agar berperilaku sesuai dengan tujuan organisasi.
6.
Pengendalian
7. Penilaian
kinerja
B.
TIPE
PENGENDALIAN MANAJEMEN
Tipe pengendalian manajemen dapat
dikategorikan menjadi 3 kelompok yaitu :
1. Pengendalian
prefentif ( prefentive control )
2. Pengendalian
operasional ( operational control )
3. Pengendalian kinerja
C.
STRUKTUR
PENGENDALIAN MANAJEMEN
Pusat
pertanggungjawaban adalah unit organisasi yang dipimpin oleh manajer yang
bertanggungjawab terhadap aktifitas pusat pertanggungjawaban yang dipimpinnya.
Tanggung
jawab manajer pusat adalah menciptakan hubungan optimal antara sumber daya
input dngan out put yang dihasilkan dan dikaitkan dengan target kinerja.
Pusat – pusat pertanggungjawaban :
1.
Pusat biaya
2.
Pusat pendapatan
3.
Pusat laba
4.
Pusat investasi
Informasi
yang terkait dengan sistem pengendalian anggaran biasanya banyak diketahui oleh
bagian departemen anggaran. Departemen anggaran memiliki fungsi sebagai berikut
:
a. Menetapkan
prosedur dan formulir untuk persiapan anggaran
b. Mengkoordinasikan
dan membuat asumsi – asumsi sebagai dasar anggaran.
c. Membantu
mengkomunikasikan anggaran ke seluruh bagian organisasi
d. Menganalisis
anggaran yang diajukan
e. Menganalisis
kinerja anggaran yang dilaporkan , menginteprestasikan hasil, dan menyiapkan
ikhtisar laporan untuk manajer pusat pertanggungjawaban
f. Menyiapkan
pembuatan revisi anggaran jika diperlukan
D.
PROSES
PENGENDALIAN MANAJEMEN SEKTOR PUBLIK
Pengendalian
manajemen dapat dilakukan secara formal maupun informal. Faktor pengendalian
formal misalnya sistem pengendalian manajemen , sistem aturan , penghargaan dan
hukuman. Faktor informal terdiri atas faktor eksternal dan internal.
Proses
restrukturisasi dan reorganisasi agar selaras dengan strategi dan desain sistem
pengendalian menejemen. Restrukturisasi tersebut didasarkan pada prinsip :
a.
Perubahan strukur organisasi hendaknya
dapat meningkatkan kapasitas untuk
mencapai strategi yang efektif
b.
Pimpinan eksekutif bertanggungjawab
untuk melaksanakan strategi dan arahan kebijakan hingga level bawah
c.
Dewan bertanggungjawab secara kolektif
untuk merencanakan strategi, kebijakan dan otorisasi alokasi sumber daya, dan
menilai kinerja menejemen.
BAB
4
PENGANGGARAN
SEKTOR PUBLIK
A.
KONSEP
ANGGARAN SEKTOR PUBLIK
Penganggran
sektor publik terkait dengan proses penentuan jumlah alokasi dana untuk tiap
program dan aktifitas dalam satuan moneter. Anggaran merupakan managerial plan
for action untuk memfasilitsi untuk mencapai tujuan organisasi. Aspek – aspek
yang harus tercakup dalam anggaran sektor publik meliputi :
1. Aspek
perencanaan
2. Aspek
pengendalian
3.
Aspek akuntabilitas publik
B.
PENGERTIAN
ANGGARAN SEKTOR PUBLIK
Anggaran
publik berisi rencana kegiatan yang dipresentasikan dalam bentuk rencana
perolehan pendapatan dan belanja dalam satuan moneter. Secara singkat anggaran
publik merupakan rencana finansial yang menyatakan :
1. Berapa
biaya atas rencana yang di buat ( pengeluaran )
2.
Berapa banyak dan bagaimana cara
memperoleh uang untuk mendanai rencana tersebut ( pendapatan)
C.
PENTINGNYA
ANGGARAN SEKTOR PUBLIK
Anggaran
sektor publik dibuat untuk membantu menentukan tingkat kebutuhan
masyarakat,seperti : listrik,air bersih,kualitas kesehatan,pendidikan,dan
sebagainya.
Anggaran
dan Kebijakan Fistal Pemerintah
Kebijakan fiskal
adalah usaha pemerintah mempengaruhi keadaan pemerintah melalui sistem
pengeluaran atau sistem perpajakan dalam mencapai tujuan. Anggaran adalah alat
ekonomi terpenting yang di miliki pemerintah untuk mengarahkan perkembangan
sosial dan ekonomi.
D.
FUNGSI
ANGGARAN SEKTOR PUBLIK
Fungsi
utama anggaran sektor publik adalah :
1. Anggaran
sebagai alat perencanaan
Merupakan alat
perencanaan manajemen dalam mencapai tujuan organisasi. Fungsi anggaran sebagai
alat perencanaan :
a. Merumuskan
tujuan dan sasaran kebijakan agar sesuai dengan visi dan misi.
b. Merencanakan
program dan kegiatan untuk mencapai tujuan organisasi.
c. Mengalokasikan
dana pada berbagai program dan kegiatan yang telah di susun.
d. Menentukan
indikator kinerja dan tingkat kecapaian strategi.
2. Anggaran
sebagai alat pengendalian
Anggaran memberikan
rencana detail atas pendapatan pengeluaran pemerintah agar dapat dipertanggung
jawabkan pada publik. Cara mengendalikan anggran publik adalah :
a. Membandingkan
kinerja aktual dengan kinerja yang di anggarkan.
b. Menghitung
selisih anggaran
c. Menemukan
penyebab yang dapat dikendalikan dan tidak dapat dikendalikan.
d. Merevisi
target anggaran untuk tahun berikutnya.
3. Anggaran
sebagai alat kebijakan fiskal
Merupkan suatu cara
yang digunakan pemerinah untuk menstabilakan ekonomi dan mendorong pertumbuhan
ekonomi.
4. Anggaran
sebagai alat politik
Anggaran merupakan
dokumen politik sebagai bentuk komitmen eksekutif dan kesepakatan legislatif
atas penggunaan dana publik untuk kepentingan tertentu.
5. Anggaran
sebagai alat koordinasi dan komunikasi
Anggaran publik
merupakan alat koordinasi antar bagian dalam pemerintahan.
6. Anggaran
sebagai alat penilaian kinerja
Kinerja eksekutif akan
dinilai berdasarkan pencapaian target anggaran dan efisiensi anggaran.
7. Anggaran
sebagai alat motivasi
Digunakan sebagai alat
untuk memotivasi manager dan stafnya agar bekerja secara ekonomis, efektif, dan
efisien dalam mencapai tujuan organisasi.
8. Anggaran
sebagai alat untuk menciptakan ruang publik
Anggaran publik tidak
boleh diabaikan oleh kabinet, birokrat, dan DPR atau DPRD.
E.
JENIS-JENIS
ANGGARAN SEKTOR PUBLIK
1. Anggaran
operasional
Digunakan untuk
merencanakan kebutuhan sehari-hari dalam menjalankan pemerintahan.
2. Anggaran
modal
Belanja Modal adalah pengeluaran yang manfaatnya
melebihi satu tahun anggaran dan akan menambah aset pemerintah. Anggaran
berfungsi sebagai alat politis yang digunakan untuk memutuskan prioritas
kebutuhan keuangan
F.
PRINSIP-PRINSIP
ANGGARAN SEKTOR PUBLIK
1. Otorisasi
oleh legislatif
Anggaran publik harus
mendapatkan otorisasi dari legislatif dahulu sebelum eksekutif dapat
membelanjakan anggaran.
2. Komprehensif
Anggaran harus
menunjukkan semua penerimaan dan pengeluaran pemerintah.
3. Keutuhan
anggaran
Semua penerimaan dan
belanja pemerintah harus terhimpun dalam dana umum
4. Nondiscretionary
appropriation
Jumlah yang disetujui
legislatif harus bermanfaat secara ekonomis efisien dan efektif
5. Periodik
Anggaran bersifat
tahunan maupun multi tahunan
6. Akurat
Estimasi anggaran
seharusnya tidak memasukkan cadangan yang tersembunyi yang dapat dijadikan
sebagai pemborosan dan inefisiensi anggaran yang berakibat munculnya underestimate
pendapatan dan overestimate pengeluaran.
7. Jelas
Sederhana, dapat
dipahami masyarakat dan tidak membingungkan
8. Diketahui
publik
Anggaran diinformasikan
kepada seluruh masyarakat
G.
PROSES
PENYUSUNAN ANGGARAN SEKTOR PUBLIK
Penyusunan
dan pelaksanaan anggaran tahunan merupakan rangkaian proses anggaran. Tujuan
penyusunan anggaran :
1. Membantu
pemerintah mencapai tujuan fiksal dan meningkatkan koordinasi
2. Menciptakan
efisiensi dan keadilan dalam menyediakan barang dan jasa publik
3. Memungkinkan
pemerintah dalam memenuhi prioritas belanja
4. Meningkatkan
transparansi dan pertanggungjawaban pemerintah kepada DPR dan masyarakat
Faktor dominan dalam
proses penganggaran :
Ø Tujuan
dan target yang dicapai
Ø Tersedianya
sumber daya
Ø Waktu
untuk mencapai tujuan dan target
Ø Faktor
lain seperti peraturan pemerintah yang baru, fluktuasi pasar, perubahan sosial
dan politik dan bencana alam
Pengelolaan keuangan
publik melibatkan aspek penganggaran, akuntansi, pengendalian dan auditing.
H.
PRINSIP-PRINSIP
POKOK DALAM SIKLUS ANGGARAN
Lemahnya
perencanaan anggaran memungkinkan munculnya underfinancing atau overfinancing
yang mempengaruhi efisiensi dan efektifitas anggaran. Siklus anggaran meliputi
empat tahap yaitu :
1. Tahap
persiapan anggaran
Terkait dengan masalah
tersebut yang diperhatikan adalah sebelum menyetujui tafsiran pengeluaran
seharusnya dilakukan penafsiran pendapatan secara akurat.
2. Tahap
ratifikasi anggaran
Merupakan tahap
melibatkan proses politik yang cukup rumit dan berat.
3. Tahap
pelaksanaan anggaran
Sistem informasi
akuntansi dan sistem pengendalian manajemen sangat diperlukan untuk mendukung pelaksanaan anggaran
4. Tahap
pelaporan dan evaluasi anggaran
Merupakan tahap
persiapan, ratifikasi, dan implementasi anggaran terkait dengan aspek
operasional anggaran, sedangkan tahap pelaporan dan evaluasi terkait dengan
aspek akuntabilitas.
wakwawwwww...akunx kerennn....
BalasHapus